<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Dari Hati</title>
	<atom:link href="http://amriltgobel.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://amriltgobel.wordpress.com</link>
	<description>Blog Amril Taufiq Gobel</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Dec 2011 14:51:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='amriltgobel.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Dari Hati</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://amriltgobel.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Dari Hati" />
	<atom:link rel='hub' href='http://amriltgobel.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>OJEK SEPEDA, KENANGAN 8 TAHUN PERNIKAHAN</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2007/04/13/ojek-sepeda-kenangan-8-tahun-pernikahan/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2007/04/13/ojek-sepeda-kenangan-8-tahun-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:22:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2007/04/13/ojek-sepeda-kenangan-8-tahun-pernikahan/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kisah nyata di ujung jalan raya Semper, Tanjung Priok, sepuluh tahun silam (tanggal tepatnya lupa) : Pemuda itu memandangku dengan tatapan curiga. Ia kemudian melihat sepeda bututnya dan melihat kembali lagi kepadaku. Seperti “menakar” sesuatu. Spontan, kepalanya menggeleng pelan. Aku balas menatap pemuda bertubuh mungil itu dengan penuh keyakinan. “Saya tidak bisa. Pokoknya tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=19&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;">Sebuah kisah nyata di ujung jalan raya Semper, Tanjung Priok, sepuluh tahun silam (tanggal tepatnya lupa) :</p>
<p><em>Pemuda itu memandangku dengan tatapan curiga.</p>
<p>Ia kemudian melihat sepeda bututnya dan melihat kembali lagi kepadaku. Seperti “menakar” sesuatu. Spontan, kepalanya menggeleng pelan.</p>
<p>Aku balas menatap pemuda bertubuh mungil itu dengan penuh keyakinan.</p>
<p>“Saya tidak bisa. Pokoknya tidak bisa. Silakan cari tukang ojek yang lain saja”, katanya pasrah. Ia lalu meraih gagang sepedanya dan bermaksud membawanya pergi dari hadapanku.</p>
<p>“Tunggu dulu,” aku memegangi lengannya. Putus asa.</p>
<p>Pemuda itu menoleh. Ia memandangiku sekali lagi.</p>
<p>“Saya bayar dua kalinya deh. Disini tak ada tukang ojek lainnya selain kamu. Bagaimana?. Saya bayar sekarang saja juga bisa kok”, kataku sembari mengangsurkan sejumlah uang kepadanya.</p>
<p>Pemuda itu merenung sejenak. Ia memandangiku kembali. Dari atas kebawah, kemudian menatap sedih kearah sepeda bututnya.</p>
<p>“Saya mau. Tapi saya tidak mampu,” ujar pemuda itu akhirnya.</p>
<p>“Kenapa ?”</p>
<p>“Badan kamu besar. Gemuk lagi. Saya tidak mampu mengayuh sepeda membawa badan kamu sebesar itu,” tukas pemuda itu sembari mencoba menggiring sepedanya menjauhiku.</p>
<p>Aku menghela nafas panjang.</p>
<p>“Oke, begini saja”, kataku dengan nada tegas,”kamu saya bonceng dan saya berada didepan mengayuh sepedamu. Bayaranmu tetap dua kali lipat, sesuai kesepakatan sebelumnya. Bagaimana ?.</p>
<p>Seketika sorot mata pemuda itu berbinar. Ia mengangguk setuju. Sepedanyapun beralih kepadaku.</p>
<p>Dan demikianlah, Akupun menjelma menjadi seorang tukang ojek sepeda paling ganteng dan paling wangi di kawasan itu.</p>
<p>Kayuhan sepedaku terasa ringan, menuju tempat kost putri, tempat dimana sang pujaan hatiku berada. Aku tak peduli tatapan heran (atau kasihan?) sejumlah orang yang kami lewati maupun berpapasan. Yang paling penting, aku mesti tiba lebih cepat sampai ke tujuanku.</p>
<p>Senja merona cerah diujung cakrawala. seperti rona merah jambu dipipi kekasihku yang menyambut sang arjuna idamannya di depan gerbang rumah kost. Aku tak tahu apa yang sedang berkecamuk dihatinya ketika menyaksikan diriku dengan keringat mengucur dikening dan baju berbasuh peluh. Yang kutahu pasti, aku telah menunjukkan sungguh besar cintaku padanya dan tidak sebatas kayuhan ojek sepeda belaka.</em></p>
<p>Dan kini, 10 tahun pasca peristiwa diatas, kekasihku, yang kini jadi istriku dan ibu bagi kedua anak-anakku (Rizky dan Alya) seringkali tertawa sendiri mengenang peristiwa bersejarah itu.</p>
<p>Hari ini, 10 April 2007, usia pernikahan kami memasuki usia kedelapan. Semoga kami bisa mengayuh biduk perkawinan kami melewati terpaan sejuta badai dalam kekuatan cinta kami yang kokoh tak tergoyahkan.</p>
<p>Selamat Ulang Tahun Perkawinan kedelapan (10 April 1999 – 10 April 2007), buat saya sendiri dan istriku tercinta, Sri Lestari. </span><br />
 </p>
<p><span style="font-family:trebuchet ms;">Catatan : Obyek gambar diambil dari <a href="http://www.common.wikipedia.org/"><font color="#6699cc">sini</font></a></span><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
 </p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=19&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2007/04/13/ojek-sepeda-kenangan-8-tahun-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FLASH FICTION : &#8220;CERMIN TOILET&#8221;</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-cermin-toilet/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-cermin-toilet/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 05:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flash-Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-cermin-toilet/</guid>
		<description><![CDATA[Aku menatapnya. Takjub. Dia menatapku. Marah. Aku tak tahu apa yang berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah balik memandang, sekaligus mengagumi kecantikannya yang begitu alami. Wanita itu mendengus kesal. Ia mengambil tisu dari tasnya dan menyeka bedak yang sudah menempel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=14&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku menatapnya. Takjub. Dia menatapku. Marah.</p>
<p>Aku tak tahu apa yang  berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia  hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah balik  memandang, sekaligus mengagumi kecantikannya yang begitu alami.</p>
<p>Wanita  itu mendengus kesal. Ia mengambil tisu dari tasnya dan menyeka bedak yang sudah  menempel di pipinya, juga polesan lipstick di bibirnya.<span id="more-14"></span></p>
<p>“Kenapa aku tidak  pernah terlihat cantik saat bercermin ?,” rutuknya sembari menatapku kembali  dengan mata menyala. Bekas-bekas bedak dan lipstick terlihat berlepotan  diwajahnya.</p>
<p>Ah, kalau saja aku bisa meraih pipinya yang ranum lalu  menepuknya lembut, maka akan kukatakan padanya, “Kamu sudah cantik. Sangat  cantik malah. Meski tanpa polesan kosmetik apapun diwajahmu”.</p>
<p>Wanita itu  menghela nafas panjang dan dengan gerakan kaku ia mengambil tempat bedak dari  tas lalu memoleskannya kembali dipipi. Pelan. Penuh perasaan.</p>
<p>Aku  menikmati ritual ini dengan antusias. Gerak gemulai tangannya saat memoles bedak  mengingatkanku pada konduktor orkestra yang memainkan tangannya memandu lagu  dengan elegan. Aku terkesan.</p>
<p>Begitupun saat ia memberikan sentuhan  terakhir lipstick pada bibirnya. Ibarat seorang maestro lukis menambahkan  tambahan warna menyolok diatas kanvas lukisannya. Berkali-kali ia memandangku  untuk memastikan bahwa ia sudah cukup cantik dengan polesan kosmetik yang  baru.</p>
<p>Mendadak pintu toilet terbuka lebar dan seorang lelaki muda  bergegas masuk. Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita itu di depan  wastafel toilet.</p>
<p>Ia mengernyitkan dahi, sebersit keraguan terpancar  dimatanya.</p>
<p>“Apakah…saya salah masuk toilet ?,” tanya lelaki itu  gusar.</p>
<p>“Tidak. Anda tidak salah masuk,” sahut wanita itu berusaha menata  kegugupan yang menderanya. Dengan cepat ia merapikan kosmetiknya yang berserakan  dan memasukkannya ke tas lalu beranjak keluar menuju pintu.</p>
<p>Lelaki itu  hanya berdiri mematung. Tak percaya.</p>
<p>“Ini memang toilet lelaki. Nama saya  Isman. Tapi biasa juga dipanggil Nana. Nana Sudonna,” tambah wanita itu yang  kemudian melesat keluar dan hilang dibalik pintu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=14&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-cermin-toilet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FLASH FICTION : &#8220;SEPEDA&#8221;</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-sepeda/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-sepeda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 05:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flash-Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-sepeda/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kesekian kalinya, jemari Andi mengelusku. Gemetar. Juga dingin. Seketika, seperti ratusan ribu arus listrik menyengat sekujur batang-batang rangka tubuhku, menggelenyar liar hingga ke jeruji kaki. Menyisakan kepedihan yang tak terkatakan. Andi mendesah. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Dielusnya aku sekali lagi dan berdesis lirih. “Selamat tinggal, sayang,” katanya pilu. Aku membeku. Diam. Ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=13&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk kesekian kalinya, jemari Andi mengelusku. Gemetar. Juga dingin. Seketika,  seperti ratusan ribu arus listrik menyengat sekujur batang-batang rangka  tubuhku, menggelenyar liar hingga ke jeruji kaki. Menyisakan kepedihan yang tak  terkatakan.</p>
<p>Andi mendesah. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya.  Dielusnya aku sekali lagi dan berdesis lirih.</p>
<p>“Selamat tinggal, sayang,”  katanya pilu. Aku membeku. Diam.<span id="more-13"></span><br />
Ia lalu bergegas meninggalkanku dan  menuju sepeda motor yang baru saja dibelinya kemarin dan sedang terparkir gagah  didepanku.</p>
<p>Aku memandang Andi—kawan setiaku&#8211; berlalu bersama derum mesin  motor yang seperti sinis mengejekku sendirian diruang garasi.</p>
<p>Sejenak  lamunanku berkelana, saat Andi dengan girang menerimaku sebagai hadiah ulang  tahun ke-sepuluh dari orang tuanya. Matanya berbinar ceria “menelanjangiku” dan  tak henti berdecak kagum melihat postur mentereng tubuhku. Sebersit rasa bangga  membuncah dihatiku.</p>
<p>Kami berdua meniti hari dengan ceria. Tidak hanya  rutinitas perjalanan pergi pulang dari rumah ke sekolah, tapi sejumlah  perjalanan-perjalanan lain yang membuatku menjadi lebih bermakna. Setiap kayuhan  kaki Andi, senandung kecilnya ketika ia mengendaraiku, atau bagaimana ia memacu  diriku sekencang mungkin berlomba bersama rekan-rekannya senantiasa memompa  semangatku dan menetapkan hati menjadi sahabat setianya, sampai kapanpun. Tak  terpisahkan.</p>
<p>Dan kini setelah empat tahun berlalu, aku tak kuasa melerai  hasrat Andi untuk memiliki sepeda motor baru. Kedua orang tuanya menyanggupi  keinginan putra tunggal kesayangannya itu sebagai hadiah ulang  tahunnya.</p>
<p>Kemarin ketika sepeda motor itu datang, Andi memandangnya  dengan begitu antusias seperti saat pertama melihat aku tiba dulu. Dan itu  membuatku sangat terpukul juga terluka amat dalam.</p>
<p>Lamunanku buyar ketika  terdengar suara Mang Sarip, tukang kebun Andi, datang bersama seseorang yang  tidak kukenal mendekatiku.</p>
<p>“Berapa nih bang, kalo dikiloin ?,” ujar Mang  Sarip sambil menuding ke arahku yang masih diam. Dan membeku.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=13&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-sepeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FLASH-FICTION : &#8220;TIANG LISTRIK&#8221;</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-tiang-listrik/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-tiang-listrik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 05:38:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flash-Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-tiang-listrik/</guid>
		<description><![CDATA[Teng!!..Teng!! &#160; Tubuhku dipukul dua kali. Begitu selalu. Setiap jam dua dini hari. Biasanya aku terbangun dari lelap tidur dan menyaksikan sesosok lelaki tua, petugas ronda malam kompleks perumahan menatapku puas dengan setangkai kayu ditangan kanan. Aku kembali tidur sesaat setelah melihat seulas senyum menghiasi bibir lelaki itu. Sebuah tanda. Hanya sebuah tanda bahwa lelaki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=12&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Teng!!..Teng!!</em></p>
<p class="post-body">&nbsp;</p>
<p><span style="font-family:trebuchet ms;">Tubuhku dipukul dua kali. Begitu selalu. Setiap jam dua dini hari. Biasanya aku terbangun dari lelap tidur dan menyaksikan sesosok lelaki tua, petugas ronda malam kompleks perumahan menatapku puas dengan setangkai kayu ditangan kanan. Aku kembali tidur sesaat setelah melihat seulas senyum menghiasi bibir lelaki itu.</span><br />
Sebuah tanda. Hanya sebuah tanda bahwa lelaki tua itu baru saja lewat berpatroli disekitar lingkungan tempatku berdiri tegak. Tepat dipukul dua dini hari. Selalu begitu setiap hari selama empat tahun terakhir. Dan aku menikmati rutinitas menyakitkan itu sembari diam-diam bersyukur masih untung dipukul dua kali, bagaimana kiranya jika sampai dipukul duabelas kali ?.<span id="more-12"></span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
Sosok lelaki tua itu lalu beranjak pergi meninggalkanku yang masih saja berdiri tegak disitu, ditempat yang sama. Diam-diam aku mengagumi kesetiaan lelaki itu pada pekerjaannya. Konon sejak ia, yang mantan pensiunan tentara, menjadi petugas keamanan malam dilingkungan tersebut tingkat kejahatan menurun drastis. Pencurian atau Perampokan yang kerap terjadi berhasil di-eliminir dengan sukses.</span></p>
<p><em>Teng!..Teng!.</em></p>
<p>Tubuhku dipukul dua kali. Begitu  selalu. Setiap jam dua dini hari.</p>
<p>Dan aku tersentak kaget. Bukan lelaki tua itu yang berada dihadapanku. Ada dua lelaki muda disana. Bertampang sangar bertubuh kekar dengan tattoo terpampang dilengan. Salah satu lelaki itu menatapku puas dengan setangkai kayu ditangan kanan, lelaki satunya menyeringai seraya memasukkan belati di sangkur yang terletak dipinggangnya.</p>
<p>Sementara sang lelaki tua penjaga malam berada tepat dibawahku. Terkulai diam tak bergerak dengan dada bersimbah darah. Tanpa seulas senyum yang selalu kukenal, setiap jam dua dinihari.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=12&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/flash-fiction-tiang-listrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CERPEN : PENGANTIN MATA BIRU</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/cerpen-pengantin-mata-biru/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/cerpen-pengantin-mata-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 05:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen/Cerfet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/cerpen-pengantin-mata-biru/</guid>
		<description><![CDATA[AKU menyusuri wilayah Desa Kuala Daya, Kecamatan Lamno, Aceh Jaya, dengan perasaan tak menentu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah rencong ini, pemandangan yang terhampar dihadapanku sungguh membuat batinku pilu dan tersentak. Betapa tidak, daerah pesisir pantai yang konon terkenal akan keindahannya itu, kini dibaluri warna coklat tua bercampur kering darah. Bangunan porak poranda, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=11&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="post-body"> <span style="font-family:trebuchet ms;">AKU menyusuri wilayah Desa Kuala Daya, Kecamatan Lamno, Aceh Jaya, dengan perasaan tak menentu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah rencong ini, pemandangan yang terhampar dihadapanku sungguh membuat batinku pilu dan tersentak. Betapa tidak, daerah pesisir pantai yang konon terkenal akan keindahannya itu, kini dibaluri warna coklat tua bercampur kering darah. Bangunan porak poranda, hanya menyisakan puing-puing tak berarti. Seonggok perahu tampak tergeletak di samping sebuah bangunan rumah yang telah luluh lantak. Beberapa bangkai perahu lainnya terserak di banyak tempat. Bau anyir mayat masih tercium dan meruap di udara.</span></p>
<p align="justify"><span id="more-11"></span> Setelah usai bergelimang kesibukan membagi-bagikan bantuan logistik kepada korban tsunami daerah itu bersama rekan-rekan prajurit TNI sejak pagi hingga siang, aku berkesempatan melihat-lihat kondisi daerah tersebut lebih dekat. Senja mulai rebah ke peraduan dan matahari menyisakan redup sinarnya. Cahaya temaram sang raja siang itu begitu kontras dengan suasana muram di kampung nelayan yang terletak dikaki bukit Ujung Seudon tersebut. Kesunyian yang mencekam begitu terasa. Aku telah berjalan kurang lebih 1,5 kilometer dari basecamp. Dan terus berjalan.</p>
<p align="justify"> Pada jarak kurang lebih dua meter dari tempatku berdiri, aku melihat sesosok lelaki muda dengan pakaian kumal duduk diatas sebongkah tembok bekas bangunan runtuh. Aku mendekati lelaki itu perlahan. Matanya menerawang seakan menembus garis batas cakrawala nun di ujung sana. Sekilas aku melihat sosok lelaki itu terlihat sedikit berbeda dengan lelaki korban pengungsi yang kutemui sebelumnya. Ia memiliki postur tubuh relatif jangkung, kulit putih kemerahan, rambut sedikit pirang, alis mata tebal dan bermata biru. Ya, bermata biru. Aku sedikit terkejut dan takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dihadapanku.</p>
<p align="justify"> “Maaf, boleh saya duduk disini, disamping anda?” aku  menyapa lelaki itu.</p>
<p align="justify"> Lelaki itu tidak menjawab, lalu menggeser pantatnya ke kiri dan memberi ruang bagiku untuk duduk. Matanya masih menatap kosong kedepan.</p>
<p align="justify"> Aku menelan ludah menata kegugupan yang datang mendera, lalu duduk di sampingnya. Sejenak kami diam seperti mencoba menebak arah pikiran masing-masing. Sekilas aku melirik sosok lelaki itu. Ia memiliki bentuk rahang yang tegas menonjol dan hamparan misai yang tumbuh kasar. Sebaris kumis tipis melintang tak rapi dibawah hidung mancungnya. Lingkaran hitam disekeliling mata gagal menyembunyikan pupil biru yang menyala redup.</p>
<p align="justify"> “Datang dari Jakarta?” Tanya lelaki itu memecah  kesenyapan diantara kami. Ia menatapku setengah hati.</p>
<p align="justify"> “Ya, saya tiba tadi pagi dengan Kapal KRI Amboina 503.”</p>
<p align="justify"> “Relawan ?”</p>
<p align="justify"> Aku mengangguk.</p>
<p align="justify"> “Dari LSM Nusantara Membangun. O, ya, kenalkan, nama saya  Firman,” sahutku sambil mengulurkan tangan.</p>
<p align="justify"> “Syamsuddin. Panggil saja Syam,” jawab lelaki itu seraya menyambut uluran tangan saya. Setelah itu, ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Menerawang entah kemana.</p>
<p align="justify"> “Sudah lama tinggal disini?” tanyaku hati-hati.</p>
<p align="justify"> “Sejak lahir saya disini.” sahut Syam pelan. “Sampai  menikah.” Nadanya terdengar getir.</p>
<p align="justify"> Aku menangkap kesedihan menggelayut disana.</p>
<p align="justify"> “Kami adalah pengantin bermata biru,” imbuh Syam seperti mengigau. Matanya kembali memandang kosong kedepan namun di pelupuknya terlihat bulir-bulir air mata mulai mengalir.<br />
Seketika perasaan bersalah membebani hatiku. Tak urung, rasa penasaran mengiringi untuk mengetahui maksud dari “Pengantin Bermata Biru” itu.</p>
<p align="justify"> Syam lalu mengusap air mata dengan punggung tangan dan memperbaiki letak duduknya. Dia lalu memandangku lekat. Mata birunya terlihat memiliki daya pukau luar biasa dalam remang senja yang muram. “Maafkan saya, bung Firman. Kalau Anda tidak keberatan, saya akan ceritakan maksud ucapan saya tadi,” kata Syam seperti bisa menebak arah pemikiranku saat ini.<br />
Aku mengangguk, “Tidak apa-apa, silakan. Sepanjang itu dapat mengurangi beban batin anda”, sahutku mencoba menghibur. Aku menatap matanya kembali mengalirkan keyakinan.</p>
<p align="justify"> Syam menghela nafas lega. Ia tersenyum. Ketegangan yang tercipta sebelumnya diantara kami pun mencair. Dan cerita dari mulutnya mengalir lancar. Aku menyimaknya dengan antusias.</p>
<p>****</p>
<p>Dua puluh empat tahun silam, Syam lahir sebagai putera nelayan di Desa Kuala Daya dan merupakan anak sulung dari dua bersaudara . Adik bungsunya, Fatimah, yang lahir enam tahun kemudian turut menjadi korban keganasan tsunami bersama kedua orang tuanya. Mata biru yang dimilikinya merupakan jejak genetis dari kakek pihak ibunya yang berdarah Portugis.</p>
<p align="justify"> Konon, menurut cerita ibundanya, setelah pelayaran berminggu-minggu dari tempat asal sekitar lima abad silam, kakek moyangnya bersama rekan-rekannya terdampar di Kerajaan Negeri Daya. Penguasa setempat saat itu, Pahlawan Syah, memerintahkan balatentaranya menemui pasukan Portugis yang terdampar tersebut. Tak ayal, perang pun pecah antara Balatentara Daya dan pasukan asing yang berambut pirang, berhidung mancung, dan berkulit putih. Akhirnya, tentara asing itu pun takluk di bawah kekuasaan balatentara Pahlawan Syah yang kemudian menawan mereka di sebuah kamp berpagar tinggi yang dikenal saat ini sebagai Kampung Meunanga. Pahlawan Syah yang ketika itu resah oleh perang sipil dengan beberapa kerajaan tetangga seperti Pase dan Pidie memanfaatkan keberadaan tentara Portugis, yang kebetulan mengerti soal senjata api, untuk membuat mesiu bagi armada perangnya. Karena tak ada pilihan lain, ditambah lagi tidak adanya bantuan dari negeri leluhur, mereka akhirnya tunduk pada perintah Pahlawan Syah dan hidup berbaur sebagai orang Daya. Beberapa diantaranya menjalin kasih dan kemudian menikah dengan penduduk setempat. Salah satu keturunan mereka diantaranya adalah keluarga Syam. Komunitas mereka dikenal sebagai “Bule Lamno”.</p>
<p align="justify"> Meski berperawakan seperti “bule”, keluarga Syam yang hidup dari hasil melaut ini merupakan muslim yang taat dan penganut Islam yang fanatik. Mereka sempat mengalami tindakan diskriminatif karena dianggap berbeda dengan warga setempat. Itulah sebabnya, Fatimah, meski memiliki anugerah kecantikan yang luar biasa, sempat mengurung diri di rumah dalam waktu lama dan cenderung tertutup.</p>
<p align="justify"> Keluarga Syam, termasuk keluarga “Bule Lamno” lainnya, tidak terlalu nyaman dengan sebutan yang beredar di masyarakat seperti si mata biru atau si rambut pirang. Hal ini disebabkan mereka telah tinggal di daerah yang sama selama berpuluh-puluh tahun serta mengerjakan aktifitas yang sama dengan penduduk asli. Sebagai ungkapan kekesalannya, Syam pernah menghitamkan rambut pirangnya dengan campuran minyak kelapa dan arang sukun agar perbedaan fisik dengan penduduk asli di sana tidak terlalu mencolok.</p>
<p align="justify"> Sejak kecil, Syam sangat senang bermain-main di pesisir pantai bersama rekan-rekannya. Berlari di pasir putih dan menikmati debur ombak menghempas lembut di kaki merupakan suatu sensasi tersendiri. Mereka terkadang bermain bola diatas pasir dan merasakan betapa susahnya mengejar bola dengan kaki yang begitu berat dibebani himpitan pasir. Tsunami dashyat akhirnya menenggelamkan semua kenangan indahnya itu.</p>
<p align="justify"> Namun kenangan yang tak akan tenggelam adalah tentang Aisyah, inong bermata biru yang telah membuat hatinya tertambat di sana. Wanita berparas jelita itu juga dianugerahi sepasang bola mata biru sebagai ciri khas menonjol komunitas “Bule Lamno”.</p>
<p align="justify"> Mereka bertemu pertama kali saat penyelenggaraan upacara  adat <em>Seumeuleung</em> sebagai peringatan syukuran penabalan Alauddin Riayat Syah sebagai Sultan di Negeri Daya yang kini menjadi Lamno. Sang Sultan kemudian bergelar Po Teumeurehom, yang sekarang makamnya di bukit Gle Jong dan kerap dikunjungi oleh ribuan peziarah. Penyelenggaraan acara ini bertepatan dengan hari raya Idul Adha.</p>
<p align="justify"> Syam menemukan Aisyah ditengah sekelompok wanita muda yang sedang bercengkrama dan berjalan menyusuri pantai ditengah kemeriahan acara Seumeuleueng 2 tahun silam. Syam bersama kawan-kawannya kebetulan berpapasan dengan kelompok gadis itu.</p>
<p align="justify"> “<em>Inong Tari Seudah Rupa</em></p>
<p><a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8697351#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>[1]</em></span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>,</em> hendak kemana?” goda Hamzah salah  seorang rekannya pada kelompok gadis itu. </span><span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p align="justify"> Mereka tidak menjawab. Hanya tersenyum sebelum berlari kecil sambil tersipu. Syam sempat menangkap sosok seorang gadis berkerudung putih dan bermata biru seperti yang ia miliki. Pandangan mereka sempat bersirobok sesaat dan membuat hatinya bergetar hebat. Dia jodohku kelak, batin Syam.</p>
<p align="justify"> Sejak pertemuan pertama tadi, Syam berusaha mencari tahu keberadaan Aisyah melalui adiknya Fatimah. Ternyata Aisyah adalah rekan sekelas Fatimah di SMU Lamno. Melalui adiknya, Syam menitip pesan untuk berkenalan namun tidak memperoleh tanggapan lebih lanjut. Tapi ia tidak kecewa. “Aisyah orangnya pemalu, Bang. Tapi salam abang buat dia sudah saya sampaikan,” kata Fatimah menjelaskan. Syam terus mencecar Fatimah tentang bagaimana reaksi Aisyah setelah menerima pesannya. Namun Fatimah hanya angkat bahu sembari tersenyum jenaka.</p>
<p align="justify"> Saat musim <em>Meuseuke Engkot </em></p>
<p><a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8697351#_ftn2" title="_ftnref2" name="_ftnref2"><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>[2]</em></span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>,</em> Syam yang sehari-harinya membantu  ayahnya mencari ikan di laut dan hanya tamat SMA itu, beralih profesi menjadi  pengemudi <em>RBT</em></span><a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8697351#_ftn3" title="_ftnref3" name="_ftnref3"><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>[3]</em></span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>.</em> Dengan meminjam motor seorang  cukong dengan target setoran harian, Syam melakoni profesinya itu dengan tekun.  </span><span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p align="justify"> Di suatu siang yang terik beberapa bulan setelah mereka pertama kali bertemu, saat mengendarai motor RBT-nya, Syam melihat Aisyah tengah berjalan sendiri. Langkahnya terlihat bergegas. Syam lalu mendekati gadis itu dengan motornya.</p>
<p align="justify"> “Terimakasih Bang, saya tidak mau naik RBT. Saya mau jalan saja,” tampik gadis itu terlebih dulu sebelum Syam menyapanya. Ia lalu mempercepat langkah.</p>
<p align="justify"> “Kalau begitu, biar abang temani jalan. RBT-nya biar abang tuntun,” kata Syam berkompromi dan mencoba menyusul Aisyah sambil menuntun motor disampingnya.</p>
<p align="justify"> Gadis itu mendadak menghentikan langkahnya, berbalik dan memandang Syam dengan tajam. Mata biru Aisyah ibarat belati menghunjam tepat di hatinya.</p>
<p align="justify"> “Ini jalan sepi, Bang. Jangan sampai mengundang cibiran orang nanti. Lebih baik abang cari penumpang lain saja. Lagipula rumah saya tidak jauh lagi koq, tinggal sekali belok disana” kata Aisyah lembut sambil menunjuk ke depan.</p>
<p align="justify"> “Saya Syamsuddin, kakak Fatimah, teman kelasmu. Saya bukan pemuda berandalan yang akan menganggumu, Dik. Abang hanya ingin berkenalan dengan kamu. Tapi kalau memang keberatan, abang akan pergi sekarang,” sahut Syam. Dengan pesona mata biru elangnya ia balas menatap manik mata Aisyah yang kemudian tertunduk malu. Syam merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat, sang pujaan hati itu telah berada tepat di depannya.</p>
<p align="justify"> Ia kemudian menaiki sadel motornya. Sebelum memutar balik motor kearah yang berlawanan dengan Aisyah, ia berkata di sela-sela deru mesin motor,” Aisyah, mata biru kamu indah.” Syam kemudian memacu motornya.</p>
<p align="justify"> Sepulang sekolah, keesokan harinya, adiknya Fatimah menyampaikan salam kembali dari Aisyah setelah sejumlah salam darinya tak berbalas. Katanya, Mata Biru Abang Syam juga indah dan mohon maaf atas kejadian kemarin.</p>
<p align="justify"> Syam tersenyum. Ia baru saja menorehkan warna pelangi  dalam satu babak kehidupannya.<br />
Hari-hari berikutnya, menjadi hari-hari penuh gelora cinta bagi Syam. Setiap adiknya berangkat ke sekolah, ia menitip salam atau terkadang surat cinta untuk Aisyah. Syariat Islam yang ditegakkan secara ketat di Aceh tidak memungkinkan mereka sebagai pasangan yang belum menikah bertemu secara terbuka. Namun surat cinta di antara keduanya seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan cinta mereka. Ketika masih menjadi pengemudi RBT, Syam senantiasa menguntit dari jauh perjalanan pulang Aisyah ke rumah. Aisyah tahu itu. Ia selalu menoleh ke belakang sesaat sebelum berbelok di tikungan, melontarkan senyum fenomenalnya ke arah Syam yang duduk diatas sadel motor RBT 50 meter darinya. Syam membalas dengan lambaian tangan dan mengembangkan senyum balasan.</p>
<p align="justify"> Setelah Aisyah tamat SMU, Syam tidak perlu menunggu lama lagi untuk melamar pujaan hatinya itu. Bersama ayah, ibu dan kerabatnya, mereka datang melamar Aisyah untuk menjadi istri Syam. Sambutan hangat mereka terima dari keluarga Aisyah yang kemudian segera menetapkan hari pernikahan mereka sebulan setelah prosesi pelamaran tersebut.</p>
<p align="justify"> “Kita adalah pengantin bermata biru,” kata Syam mesra di telinga istrinya, Aisyah diatas pelaminan, di sela-sela kemeriahan pesta pernikahan mereka, beberapa bulan silam. Aisyah tersenyum malu dan mencubit pinggang suaminya. Seusai pesta pernikahan, mereka menempati rumah Aisyah karena sebagai anak tunggal satu-satunya, Aisyah belum diperkenankan tinggal terpisah jauh dari ayah bundanya. Syam memaklumi itu. Lagipula, rumahnya pun hanya berjarak kurang lebih dua kilometer dari tempatnya bermukim sekarang.</p>
<p align="justify"> Syam menjalani profesi sebagai nelayan mengikuti jejak ayahnya. Namun ketika musim Meuseuke Engkot datang, ia kembali menekuni profesi sebagai pengemudi RBT.</p>
<p align="justify"> Syam begitu mensyukuri anugerah Allah atas kebahagiaan yang diterimanya. Selain istri yang cantik dan alim, Aisyah mampu tampil sebagai pendamping hidupnya yang setia bersama dalam suka maupun duka. Kebahagiaan pun terasa lengkap saat Aisyah mengabarkan kehamilannya. Mata Syam berkaca-kaca, terharu mendengar kabar menyenangkan itu. Dipeluknya Aisyah erat-erat dan mencium keningnya dengan mesra.</p>
<p align="justify"> Sampai akhirnya bencana tsunami itu merenggut semuanya, termasuk kebahagiaan yang telah ia reguk bersama Aisyah. Ia masih ingat betul saat gempa dashyat melanda Aceh saat pagi baru membuka tirainya. Setiap pagi, Syam mempunyai kebiasaan mempersiapkan perahu dan jala sebelum melaut didepan rumah. Di hari Minggu yang naas itu, gempa mengguncang dashyat. Syam berlari masuk rumah dan meminta seluruh anggota keluarganya untuk segera keluar rumah menyelamatkan diri dari kemungkinan lebih buruk. Semua selamat, termasuk istrinya Aisyah dan kedua mertuanya.</p>
<p align="justify"> Tiba-tiba air laut surut. Sejumlah warga berlarian kearah pesisir pantai, melihat ikan-ikan yang terdampar dan menggelepar-gelepar disana. Tidak berapa lama kemudian gelombang ombak besar datang menderu dengan kecepatan tak terhingga. Syam dan Aisyah menatap, dinding air setinggi pohon kelapa yang menerjang, dengan perasaan ngeri.</p>
<p align="justify"> <a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7279/602/1600/Bencana%20di%20Aceh-3.jpg"><img src="http://photos1.blogger.com/blogger/7279/602/320/Bencana%20di%20Aceh-3.jpg" border="0" /></a><br />
Syam menggenggam erat tangan istrinya dan menariknya lari. Sekencang-kencangnya. Ia tidak melihat kedua mertua yang sebelumnya berada di dekatnya. Sejumlah orang ikut berlari dengan perasaan panik dan ketakutan luar biasa. Ombak besar datang menggulung, memutar dan menghempaskan Syam dan Aisyah. Genggaman tangan mereka terlepas. Syam berusaha menggapai istrinya. Ia berteriak sekuat tenaga memanggil namun kekuatan ombak raksasa itu tak kuasa dilawannya. Ia tidak ingat apa-apa lagi.</p>
<p align="justify"> Saat tersadar, ia seperti bangun dari kematian. Tubuhnya tersangkut di sebuah pohon, sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Ia selamat dari bencana mengerikan itu. Tapi tak ada Aisyah disampingnya. Rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya. Dengan kekuatan yang tersisa, ia turun dari pohon dan berjalan tertatih mencari Aisyah, istrinya. Ia memanggil sekuat tenaga dengan harapan yang kian rapuh. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Di jalan, di bawah reruntuhan bangunan, di pohon, di mana saja. Sambil menahan sakit di sekujur tubuh, Syam membolak-balik setiap mayat yang ditemuinya.</p>
<p align="justify"> Tepat di tikungan jalan tempat Aisyah biasa berbelok menuju ke rumah, ia menghentikan langkah. Tubuh Aisyah tergeletak di bawah pohon mangga, tempat ia biasa berteduh dan menoleh sambil tersenyum, ke arah Syam yang sedang duduk menguntitnya dengan motor RBT. Jilbab putih istrinya sudah berubah warna menjadi coklat gelap lumpur. Syam memeluk istrinya erat-erat, menciumnya, mengalirkan kehangatan dan cinta kasihnya yang tak terhingga. Ia mencoba menemukan kerjap indah mata biru Aisyah, tapi sia-sia. Mata istrinya telah tertutup untuk selama-lamanya. Kepedihan luar biasa melanda batinnya.</p>
<p align="justify"> Saat itu Aisyah sedang mengandung 2 bulan, hasil buah  kasih cinta mereka.</p>
<p>****</p>
<p>Syam menunduk, menekuri tanah tempat kami  duduk.</p>
<p align="justify"> Aku tertegun menyimak kisah hidupnya. Malam mulai turun dan desau angin laut terasa menggigilkan tubuh. Aku menghela nafas panjang. Sungguh berat penderitaan yang dialami lelaki muda ini.</p>
<p align="justify"> “Mari kita pulang ke barak, Bung Syam,” ajakku sembari  bangkit.</p>
<p align="justify"> Ia tak bergeming sedikitpun.</p>
<p align="justify"> “Hidup kita masih harus terus berlanjut Bung Syam. Tidak berhenti sampai disini. Putus asa tidak akan menyelesaikan semuanya dan mengembalikan Aisyah kembali di sisi Anda. Yang paling penting saat ini, Anda mesti merelakan kepergian Aisyah sebagai takdir yang sudah digariskan dari Allah, Tuhan penguasa semesta alam. Untuk kemudian bangkit melanjutkan hidup lebih tegar dan bermakna sebagai bagian dari fitrah ke-khalifahan kita dimuka bumi,” tuturku tenang.</p>
<p align="justify"> Syam mengangkat wajah. Ia memandangku. Mata birunya seperti terluka, tapi aku melihat secercah cahaya harapan disana. Pandangannya beralih kedepan. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Ia menghela nafas panjang lalu mengangguk pelan.</p>
<p align="justify"> Aku menepuk pundak Syam dan membantunya bangkit dari tempat duduk lalu berjalan bersamanya. Samar-samar aku mendengar debur ombak menghempas pantai seperti mendendangkan tembang pilu. Tentang kenangan yang tenggelam, tentang mimpi-mimpi yang hilang.</p>
<p>Jakarta, 23 February 2005</p>
<p align="justify"> Foto-foto diambil dari :</p>
<p align="justify"><a href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=48&amp;condense_comments=false">http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=48&amp;condense_comments=false</a></p>
<p><em>Sebagian bahan kisah ini terinspirasi dan dikutip dari Majalah Tempo No.52/XXXIII/21-27 Februari 2005, Rubrik SELINGAN :”Lamno Tak berlalu dari Ingatan” </em><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em><strong>Catatan Kaki:</strong></em></p>
<p align="justify"><em><br />
</em></p>
<p><a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8697351#_ftnref1" title="_ftn1" name="_ftn1"><span style="font-family:trebuchet ms;">[1]</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> Gadis Cantik Rupawan<br />
</span><a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8697351#_ftnref2" title="_ftn2" name="_ftn2"><span style="font-family:trebuchet ms;">[2]</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> Paceklik Ikan<br />
</span><a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8697351#_ftnref3" title="_ftn3" name="_ftn3"><span style="font-family:trebuchet ms;">[3]</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> Rakyat Banting Tulang, istilah Ojek di  Aceh</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=11&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/cerpen-pengantin-mata-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos1.blogger.com/blogger/7279/602/320/Bencana%20di%20Aceh-3.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PESONA CERFET YANG PENUH GREGET &#8212; Sebuah Sketsa Pengalaman Pribadi</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/pesona-cerfet-yang-penuh-greget-sebuah-sketsa-pengalaman-pribadi/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/pesona-cerfet-yang-penuh-greget-sebuah-sketsa-pengalaman-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 04:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan/Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/pesona-cerfet-yang-penuh-greget-sebuah-sketsa-pengalaman-pribadi/</guid>
		<description><![CDATA[“Selamat ya,” ucap Tina pendek. Juga lesu. &#160; “Koq cuma itu, sih?” protes Jamal gundah. “Lantas, kamu mengharapkan aku berkomentar apa?” sahut Tina sengit. Ia meraih orange Juice yang tinggal separuh dan meminum sampai habis. “Jangan sinis gitu dong, Tin. Paling tidak aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, dapat lolos kasting dan menjadi pemeran di sinetron [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=10&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>“Selamat ya,”  ucap Tina pendek. Juga lesu.</em></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p><em>“Koq cuma  itu, sih?” protes Jamal gundah.</em></p>
<p><em>“Lantas, kamu  mengharapkan aku berkomentar apa?” sahut Tina sengit.</em><span style="font-family:trebuchet ms;"><em><br />
</em></span></p>
<p><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>Ia meraih orange  Juice yang tinggal separuh dan meminum sampai habis.</em></span><br />
<em>“Jangan sinis gitu dong, Tin. Paling tidak aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, dapat lolos kasting dan menjadi pemeran di sinetron Serambi Rumah Maknyak yang akan syuting minggu depan. Surat Pemberitahuan dari Production House yang kamu pegang sekarang itu adalah awal karir gemilangku nanti. Seharusnya kamu bangga dong atas prestasi yang kuraih ini. Kamu koq malah membuat semangatku jadi patah sih?” ujar Jamal seraya mendengus kecewa. Tina menghela nafas dan menatap Jamal tajam.</em></p>
<p><em>“Aku selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu dalam menentukan karir dimasa depan. Apapun itu. Asal jangan jadi artis!” tegas Tina dengan mata menyala.</em></p>
<p><em>Jamal angkat  bahu.</em></p>
<p><em>“Tina, aku ingin mewujudkan impian masa kecilku. Menjadi bintang film. Dan apa yang aku harapkan, sekarang sudah menjadi nyata. Selangkah lagi, aku akan masuk ke dunia yang senantiasa hanya menjadi bagian dari mimpiku selama ini. Aku tidak akan mundur. Selangkahpun. Aku janji tidak akan melupakan apalagi mengabaikanmu selama meniti karir keartisanku ini. Percayalah. Aku mohon dukunganmu, Tin,” kata Jamal lembut. Ia meraih jemari Tina lalu menggenggamnya erat. (Dikutip dari Cerfet </em><a href="http://www.blogfam.com/forum/viewtopic.php?t=2743" class="postlink" target="_blank"><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>Selebritiku,  Pulanglah!</em></span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"><em>, Episode  Kesebelas oleh Amril Taufiq Gobel, posting tanggal 16 Juni 2005).  </em></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p>CERFET atau Cerita Estafet yang dimuat di ruang Galeri Kreasi adalah sebuah fenomena menarik di Komunitas Blogfam (www.blogfam.com). Sejak pertama kali dipopulerkan oleh Sa dan Tuteh dengan judul Sketsa Hati Tuteh (Agustus 2004), tercatat hingga tulisan ini dibuat sudah ada tujuh cerfet dengan berbagai tema yang berbeda ditayangkan di Galeri Kreasi Blogfam. Termasuk cerfet terbaru “Bayang Hitam” yang saat ini memasuki episode kesepuluh dan ditulis oleh delapan orang.<br />
<span id="more-10"></span><br />
<span style="font-family:trebuchet ms;">Cerfet merupakan rangkaian cerita fiksi bersambung yang ditulis oleh dua orang atau lebih dan menjadi suatu kesatuan cerita yang utuh. Istilah cerfet ini, menurut Maknyak/Labibah Zain (founder komunitas blogfam) seperti yang ditulis ulang oleh YNa dengan judul </span><a href="http://ynawrite.blogspot.com/2005/03/messenger-nakal-dan-penuh-surprise.html" class="postlink" target="_blank"><span style="font-family:trebuchet ms;">The Messenger, &#8216;Nakal&#8217; dan  penuh surprise</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">, secara  sederhana dijelaskan sebagai berikut: <em>&#8220;Persis seperti adegan pertandingan lari di dunia olah raga. Penulis A akan menyerahkan tongkat estafet penulisan kepada penulis B dan penulis B setelah menulis akan menyerahkan tongkat kepenulisan kepada penulis C, begitu seterusnya sampai mencapai garis FINISH yang berupa ending cerita tersebut. Penulisan seperti ini memerlukan kerja team yang hebat dan kuat. Masing-masing penulis, sebagaimana dalam lomba lari estafet, harus saling mendukung cerita. Sekali saja penulis lengah, akan bubarlah keutuhan ceritanya.&#8221;</em></span></p>
<p>Penulisan Cerfet memiliki kaidah/aturan tersendiri yang mesti dipatuhi oleh tiap penulis. Jumlah kata, jumlah posting, tenggat waktu antara posting yang satu dan posting selanjutnya, urutan posting dari tiap penulis ditetapkan sedemikian rupa sesaat sebelum cerfet ditayangkan. Khusus untuk urutan posting dibagi dalam beberapa segmen (tergantung jumlah penulis) dan masing-masing penulis akan diberi jatah urutan berbeda di tiap segmen. Hal ini dimaksudkan tidak hanya untuk memberi porsi urutan berpindah dari tiap penulis tapi juga menghindari pola berulang yang monoton.</p>
<p>Tim Penulis mendiskusikan secara cermat aturan-aturan penulisan termasuk segala konsekuensinya. Namun demikian, aturan dimaksud, lebih kepada masalah teknis terutama menjaga kedisiplinan tiap penulis berada dalam koridor yang sudah ditetapkan dan tidak mengekang kebebasan berekspresi secara menyeluruh dari tiap penulis.</p>
<p>Saat pertama kali ditodong menulis cerfet apalagi menjadi penulis di awal episode, saya sempat merinding. Betapa tidak. Selain ini menjadi debut pertama menulis cerfet, juga dalam kapasitas sebagai penulis awal, saya mesti berusaha keras mencari tema yang menarik dan bisa menciptakan banyak celah bagi penulis berikutnya untuk dikembangkan dalam suatu kesinambungan cerita. Setelah lama berkiprah sebagai penulis cerita pendek yang lebih leluasa menjadi diktator atas alur kisah yang dibuat, saya sempat menghadapi kesulitan saat memulai membuat cerfet.</p>
<p>Berbeda dengan penulisan cerpen, saya dapat dengan mudah membuat outline/kerangka cerita sesuai ide yang berkembang di benak. Alur cerita, karakter tokoh dan konflik yang terjadi hingga akhir kisah dapat diatur sekehendak saya, sebagai penulis. Sangat berbeda saat menulis cerfet. Saya harus menahan ego pribadi serta berkompromi dengan diri sendiri sembari menunggu posting berikutnya dari penulis yang lain. Sangat mungkin, lanjutan kisah dari penulis berikutnya jauh berbeda dengan apa yang terbayang di benak. Diperlukan kemampuan untuk lebih jeli mendeteksi celah yang ada dari posting penulis sebelumnya lalu kemudian dikembangkan menjadi ide kisah lanjutan, seraya tetap memelihara plot/alur cerita secara konsisten. Disinilah letak tantangan dan daya tarik cerfet. Kejutan-kejutan dari tiap episode serta kerangka cerita terbangun secara spontan dari posting ke posting tiap penulis, membuat saya seperti dibetot ke dalam pesonanya.</p>
<p>Ketika memulai membuat cerfet Selebritiku, Pulanglah! (SP), tema yang saya angkat diilhami dari posting salah satu anggota blogfam yang mengisahkan problematika sahabatnya yang berpacaran dengan selebriti. Tema ini saya anggap menarik karena selain mengusung trend aktual pacaran/pernikahan selebriti dan orang biasa. Tema ini juga menawarkan begitu banyak potensi konflik dan celah untuk dikembangkan menjadi cerfet. Saya merasa, fondasi ini sudah cukup kuat sebagai dasar membangun cerfet SP. Dengan empat penulis (saya, Tuteh, Bondan dan Liza) dan empat isi kepala yang berbeda, merupakan tantangan tersendiri untuk cerfet SP. Latar belakang usia dan pengalaman masing-masing penulis sedikit banyak memberikan pengaruh signifikan pada gaya penulisan. Tuteh misalnya, yang baru saja dinobatkan sebagai aktifis cerfet blogfam 2005 karena produktifitasnya dalam menulis cerfet, memiliki gaya bertutur yang khas ala remaja: ceria dan blak-blakan. Tentu jauh berbeda dengan gaya penulisan Bondan yang mengalir tenang dan terkesan hati-hati. Tak dapat dipungkiri, gaya penulisan yang berbeda ini menjadi tantangan bagi tiap penulis untuk menyuguhkan rangkaian kisah yang nyaman dibaca oleh khalayak pembaca. Team Penulis cerfet SP menyadari betul hal tersebut. Meski justru letak keunikan cerfet berada pada gaya penulisan masing-masing penulis di tiap episode berbeda, tetap diupayakan untuk mengakomodir gaya penulisan sebelumnya agar kesinambungan dan konsistensi bertutur tetap terjaga.</p>
<p>Ada pengalaman menarik yang dapat diungkap yakni, pada episode pertama SP, saya menggambarkan karakter si bencong Donna relatif terkesan agak maskulin dan konyol. Pada perkembangan selanjutnya ditangan penulis berikut, sosok ini bermetamorforsis menjadi sosok bencong yang norak, lucu dan genit. Saya senang dan melihat ini bukanlah sebentuk inkonsistensi namun sebagai pengembangan dan pengayaan karakter Donna secara lebih kreatif dari penulis berikutnya sejauh masih berada pada jalur logika cerita. Salah satu letak keunggulan lain membuat cerfet yakni belajar menerima, menghormati dan menyiasati perbedaan.</p>
<p>Pada episode 6-10 di cerfet SP, saya sempat gregetan pada arah cerita yang berkembang tak terduga. Dalam benak saya sudah ada skenario bayangan kira-kira arahnya akan seperti ini. Dengan perkembangan cerita yang berubah demikian cepat, mau tidak mau, saya, yang akan menerima amanah selanjutnya meneruskan kisah tersebut dengan menyesuaikan alur yang ada dan apa boleh buat, mengesampingkan ego pribadi saya sendiri. Awalnya memang sulit, tapi pada gilirannya, saya menemukan kesejukan di sana. Bahwa cerfet, pada akhirnya membingkai perbedaan, gagasan dan ekspresi yang ada dalam sebuah harmoni yang indah. Ibarat menyusun “puzzle” , masing-masing keping episode yang ditayangkan oleh tiap menulis, pada akhirnya akan membentuk satu kesatuan cerita yang utuh.</p>
<p>&#8220;Jam Terbang&#8221; saya menulis cerfet memang masih sedikit. Selain  cerfet <em>Selebritiku Pulanglah! </em>yang sudah rampung bulan Juli tahun lalu,  saat ini saya juga masih terlibat menjadi salah satu team penulis cerfet  <em>Bayang Hitam</em>. Namun dari aktifitas menulis cerfet selama ini, saya mendapatkan sensasi yang berbeda dengan menulis cerpen. Interaksi virtual yang hangat khususnya dengan rekan-rekan sesama tim penulis cerfet saya rasakan sebagai pengalaman batin yang tak ternilai. Internet memang telah membuang sekat-sekat geografis antar pulau hingga antar negara. Komunikasi antara saya dan Bondan di Jakarta, Tuteh di Ende-Flores, dan Liza di Bali yang terjalin lewat cerfet SP membuat kami seakan bercakap satu sama lain, <em>face to  face</em>.</p>
<p>Apalagi dengan cerfet kolosal <a href="http://www.blogfam.com/forum/viewtopic.php?t=4191" class="postlink" target="_blank"><span style="font-family:trebuchet ms;">Bayang Hitam (BH)</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> yang baru kali ini dalam sejarah per-cerfet-an di komunitas blogfam melibatkan paling banyak penulis. Istimewanya, tidak semua dari penulis cerfet tersebut berada di Indonesia. Sa dan Jaf masing-masing berdomisili di Belanda dan Singapore. Penulis yang lain di Indonesia seperti saya dan Lili di Jakarta, Ucha di Manado, Ireth di Malang-Jawa Timur, Tuteh di Ende-Flores dan Rara di Makassar. Tidak hanya itu. Sejumlah inovasi baru juga coba diterapkan dalam cerfet BH. Yang pertama adalah membuka lowongan terbuka bagi siapapun anggota komunitas blogfam yang berminat ikut menjadi salah satu tim penulis cerfet dalam satu tenggat waktu tertentu. Jika biasanya, calon penulis cerfet berkumpul dan berembug secara tertutup sebelum meluncurkan cerfet-nya, maka khusus untuk cerfet BH dibuka kesempatan bagi siapapun yang berminat ikut. Yang kedua adalah, pada segmen pertama, segera setelah posting awal ditayangkan oleh sang Initiator sekaligus Organiser cerfet ini (Sa), penulis yang sudah mendaftar dipersilahkan untuk mengajukan diri sebagai penulis berikutnya, dan demikian seterusnya hingga ke delapan penulis mendapat giliran. Prinsipnya: siapa yang cepat, dia yang akan dapat kesempatan pertama. Yang ketiga, pembaca dilibatkan secara interaktif untuk menentukan siapa penulis berikutnya pada segmen kedua. Penulis cerfet harus siap menerima order pembacanya sebagai penulis lanjutan. Baru pada segmen ketiga nanti, kedelapan penulis akan berembug menentukan urutan masing-masing.</span></p>
<p>Inovasi yang dilakukan pada cerfet BH memberi warna dan kesegaran baru dalam sejarah per-cerfet-an di blogfam. Tantangannya pun kian kompleks terlebih ketika pembaca dilibatkan secara interaktif untuk menentukan penulis berikut di setiap urutan. Saya pribadi menganggap ini menjadi tantangan yang luar biasa untuk menguji sejauh mana tingkat apresiasi pembaca pada karya cerfet saya. Komunitas Blogfam yang per tanggal 6 Januari 2006 telah memiliki anggota terdaftar sebanyak 1,622 diseluruh dunia, memberikan ruang yang cukup lega bagi tumbuh dan berkembangnya aktifitas cerfet melalui ruang Galeri Kreasi.</p>
<p>Para penggiat blog yang tergabung dalam komunitas yang sudah memasuki usia 2 tahun ini, tidak hanya menjadi target sebagai khalayak pembaca cerfet namun dapat pula tampil sebagai penulis dan menjadikan cerfet sebagai sarana belajar untuk mengasah keterampilan menulis serta menuangkan gagasan. Terlebih lagi, Galeri Kreasi di Blogfam tidak hanya menampilkan cerfet sebagai menu utama namun juga karya-karya lain seperti cerpen, puisi, foto, esei, dan lain-lain.</p>
<p>Cerita kolaborasi melalui  aktifitas internet, sesungguhnya bukan hal yang baru. Novel <em>Puing  </em>(Bebop Publishing, 2005) yang ditulis oleh sembilan anggota milis Truedee kemudian disunting oleh cerpenis handal Bondan Winarno yang sekaligus juga menyumbangkan kisah untuk menutup cerita, merupakan salah satu contoh nyata bahwa aktifitas kolaborasi penulisan di dunia maya dapat diwujudkan dalam bentuk karya cetak. Kami, tim penulis cerfet SP juga memiliki impian agar karya kami tersebut dapat diterbitkan sehingga dapat dinikmati tidak hanya di kalangan terbatas, seperti komunitas blogfam saja. Untuk itu, saat ini kami tengah melakukan proses penyuntingan dan dalam waktu dekat bisa diajukan ke pihak penerbit.</p>
<p>Akhirulkalam, saya mengutip pernyataan sastrawan besar Iwan  Simatupang 40 tahun silam: “<em>Melahirkan kesegaran imajinasi adalah tantangan Indonesia dimasa depan. Yang diperlukan penjelajahan-penjelajahan bentuk dan gagasan sebuah karya seni yang dapat mengilhami orang membayangkan kemungkinan-kemungkinan kedepan.” </em>Mudah-mudahan cerfet di blogfam adalah salah satu wujud kesegaran imajinasi dari hasil penjelajahan bentuk karya seni dan akan memberi ilham, dari waktu ke waktu, bagi siapapun juga untuk membayangkan kemungkinan kedepan.</p>
<p><em>Jakarta, 6 Januari 2006  </em></p>
<p>Disampaikan dalam acara <a href="http://www.blogfam.com/forum/viewtopic.php?t=5622" class="postlink" target="_blank"><span style="font-family:trebuchet ms;">Jumpa Penulis Blogfam</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> tanggal 14 Januari 2006 di Common  Room-Bandung</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=10&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/pesona-cerfet-yang-penuh-greget-sebuah-sketsa-pengalaman-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BLOG ANAK DAN REFLEKSI VIRTUAL KEHIDUPAN</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/blog-anak-dan-refleksi-virtual-kehidupan/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/blog-anak-dan-refleksi-virtual-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 04:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan/Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/blog-anak-dan-refleksi-virtual-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#8220;Jadi laki-laki memang tidak mudah, nak&#8221;, kata ayahku sembari mengoleskan minyak gosok ke keningku yang benjol setelah ditonjok pakai gembok besi oleh Faiz tetangga rumah yang seumur denganku. Sore tadi, setelah rebutan mainan, Faiz memukul keningku dengan gembok rumahnya. Keningku memang agak memar namun setelah ayah mengoleskan minyak gosok sakitnya jadi sedikit berkurang. Sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=9&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="post-body">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em><span style="font-family:trebuchet ms;">&#8220;Jadi laki-laki memang tidak mudah, nak&#8221;, kata ayahku sembari mengoleskan minyak gosok ke keningku yang benjol setelah ditonjok pakai gembok besi oleh Faiz tetangga rumah yang seumur denganku. Sore tadi, setelah rebutan mainan, Faiz memukul keningku dengan gembok rumahnya. Keningku memang agak memar namun setelah ayah mengoleskan minyak gosok sakitnya jadi sedikit berkurang. Sebenarnya tidak terlalu parah, tapi ibu dengan cemas begitu memperhatikan keadaanku.</span></em></p>
<p><em>&#8220;Nggak apa-apa koq,&#8221;kata ayahku menghibur ibu. &#8220;Anak laki-laki  memang biasa kalau berantem, kayak bapaknya dulu waktu kecil&#8221;.</em></p>
<p><em>Ayah  kemudian mengusap kepalaku pelan sambil menatapku tajam,&#8221;Tapi jangan mau kalah  dong!&#8221;.</em></p>
<p align="justify"> <a href="http://photobucket.com/" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v471/rizkyauliagobel/posekikiy2.jpg" alt="Image hosting by Photobucket" align="left" border="0" /></a></p>
<p><em>Ibu melotot ke arah ayahku.</em></p>
<p><em>&#8220;Zaman Rizky sudah berbeda  dengan zamanmu dulu !&#8221;, kata ibu ketus.</em></p>
<p><em>Ayah tertawa renyah.</em></p>
<p><em>&#8220;Ya, tapi itu tidak berarti bahwa dia mesti jadi pecundang dong!&#8221;, sahut ayahku enteng kemudian meraih handuk lalu menuju ke kamar mandi.</em></p>
<p><em>Keesokan harinya, saat bermain bersama Faiz dan ia berusaha merebut mainan mobil-mobilanku, aku segera memukul wajahnya lantas mendorongnya ke tanah. Iapun menangis sejadi-jadinya. Ibu Faiz dan ibuku yang sedang asyik mengobrol terkejut kemudian datang melerai kami berdua. Ibu kemudian merangkulku dan mengajak bersalaman untuk berdamai dengan Faiz. Sore harinya ibu menceritakan hal ini pada ayah. Mau tahu apa tanggapannya ?. </em></p>
<p><em>&#8220;So, that&#8217;s my Boy!!&#8221;, serunya lantang sembari mengacungkan jempolnya.</em><span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p>(Dikutip dari <a href="http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com/2004_07_01_muhrizkyauliagobel_archive.html"><span style="font-family:trebuchet ms;">Blog Rizky &#8220;That&#8217;s My Boy&#8221;</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">)</span></p>
<p><span id="more-9"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p><span style="font-family:trebuchet ms;">MENULIS blog memang mengasyikkan. Apalagi blog anak. Sejak pertama kali menulis blog untuk anak pertama saya Muhammad Rizky Aulia Gobel, awal tahun 2003 silam, saya tidak semata-mata menemukan sebuah sarana curhat yang gratis, bebas sensor dan bebas biaya distribusi tetapi lebih dari itu, saya bisa menampilkan refleksi kehidupan keluarga saya secara virtual lewat media internet. Hadirnya </span><a href="http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com/"><span style="font-family:trebuchet ms;">blog Rizky</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">&#8211;buah hati kami yang lahir 3 tahun sejak saya dan istri menikah tahun 1999&#8211;pada awalnya memang diniatkan menjadi catatan perjalanan kehidupannya mulai lahir dan (mudah-mudahan) hingga dewasa kelak. Namun dalam setahun belakangan ini, saya menyadari, blog telah menjelma menjadi sebuah kekuatan media baru yang tangguh dan layak diperhitungkan dalam membentuk opini publik bahkan menjadi struktur yang berlawanan dengan media konvensional. Pendapat ini juga disitir oleh John Katz dalam tulisannya </span><a href="http://slashdot.org/features/99/05/13/1832251.shtml"><span style="font-family:trebuchet ms;">&#8220;Here Come the Weblogs&#8221;</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">May 1999,<em>&#8220;Blog merupakan struktur terbalik  dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan&#8221;</em>.  Sementara itu, </span><a href="http://www.rebeccablood.net/handbook/excerpts/weblog_ethics.html"><span style="font-family:trebuchet ms;">Rebecca Blood</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">, penulis buku </span><a href="http://www.amazon.com/gp/product/073820756X/ref=nosim/104-3708824-6951116?n=283155"><span style="font-family:trebuchet ms;">&#8220;The Weblog Handbook: Practical Advice on  Creating and Maintaining your blog&#8221;</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">berpendapat,<em>&#8220;Weblogs are the mavericks of the online world. Two of their greatest strengths are their ability to filter and disseminate information to a widely dispersed audience, and their position outside the mainstream of mass media&#8221;</em>.<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;">Salah satu bukti  &#8220;kedashyatan&#8221; blog dapat dilihat dari skandal yang terjadi pada </span><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/National_Kidney_Foundation_Singapore_scandal"><span style="font-family:trebuchet ms;">National Kidney Foundation (NKF)  Singapore</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> tahun silam. Skandal penyelewangan dana LSM sosial di negeri tetangga itu mendapat sorotan tajam dari masyarakat setelah publikasi si Direktur Utama yang bergaji 600 ribu Dollar Singapore per tahun dan bepergian naik pesawat dengan kelas bisnis, padahal dana yang digunakan adalah uang hasil sumbangan masyarakat itu terkuak. Tak ayal lagi, protes, demo, yel-yel dan caci maki dari masyarakat Singapore yang konon merupakan dua pertiga dari pendonor NKF deras mengalir. Uniknya, sebagian besar &#8220;demo&#8221; tersebut memakai sarana blog via internet sebagai medianya (saya belum dapat membayangkan apakah gerakan seperti ini kelak dapat terjadi di negeri kita yang masyarakatnya belum terlalu banyak mengenal teknologi internet, apalagi blog). Publik dari berbagai kalangan menyuarakan opini dan pendapat mereka melalui media alternatif ini sekaligus salah satu bentuk baru &#8220;gerakan bawah tanah&#8221; era digital . Dan sukses. Sang Direktur Utama serta wakilnya mengundurkan diri dari jabatannya dan langsung diadili oleh pengadilan setempat.<br />
</span><span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;">Harus diakui, blog sebagai salah satu bagian budaya digital memberi pengaruh besar bagi perkembangan dunia informasi dewasa ini. Merebaknya layanan blog gratis yang ditawarkan seperti dari blogger.com, blogdrive.com, blogsome.com, dan lain-lain, memberi peluang tumbuh kembang blog secara spektakuler. Ditambah lagi semakin melaju pesatnya teknologi digital terbaru serta kemudahan dan kecepatan akses internet misal melalui area hot-spot memungkinkan seseorang dapat seketika melakukan update terbaru di blog masing-masing. Mengikuti kecenderungan yang terjadi, saya menulis blog anak sesungguhnya lebih didasari keinginan untuk berbagi informasi, ekspresi dan juga keceriaan dari aktifitas Rizky. Seperti sebuah rumah singgah maya yang nyaman di belantara virtual yang terus tumbuh. Adapun perkembangan blog yang mengambil posisi diluar dari &#8220;mainstream&#8221; media massa seperti yang sudah diungkap oleh Rebecca Blood menjadi stimulir berharga bagi saya untuk menampilkan blog yang saya tulis menjadi lebih menarik.<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;">Amy Jo Kim seorang  konsultan dan pengarang buku <em>“Community Building on the Web: Secret  Strategies for Succesful Online Communities” </em>, seperti dikutip dari  </span><a href="http://enda.goblogmedia.com/apa-itu-blog.html"><span style="font-family:trebuchet ms;">blog Enda Nasution</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">, menulis bahwa diperlukan beberapa syarat  dasar khusus untuk menjadi seorang Blogger, yaitu <em>kemampuan untuk mengekspresikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan minat pribadi pada “keterusterangan”</em>. Saya memberi aksentuasi khusus pada kalimat terakhir Amy, karena dengan menulis blog anak saya&#8211;mau tidak mau&#8211;memberi peluang bagi pembaca untuk secara &#8220;telanjang&#8221;mengetahui lika-liku dan latar belakang kehidupan keluarga saya. Tentu saya mesti siap menempuh resiko &#8220;keterus-terangan&#8221;itu. Blog sebagai refleksi personal pembuatnya pada gilirannya&#8211;secara langsung maupun tidak&#8211;menjadi &#8220;jendela&#8221; yang membingkai ide, aktifitas keseharian, emosi, kreatifitas,harapan bahkan mimpi-mimpi sang penulis blog.<br />
</span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;">Melalui blog Rizky, saya berusaha mengartikulasikan &#8220;ketelanjangan&#8221; itu lewat untaian kalimat yang (moga-moga) tidak hanya sebagai representasi aktifitas keseharian Rizky juga menjadi bahan renungan bagi semua publik pembacanya. Seperti cuplikan kisah dari blog Rizky diawal tulisan ini, selain sebagai dokumentasi aktifitasnya, saya juga &#8220;menitip&#8221;pesan tersirat pada Rizky bahwa mental pecundang mesti disingkirkan jauh-jauh dalam dirinya, sebagai lelaki. Dan itu, tidak mudah. Pada Posting yang lain </span><a href="http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com/2005_04_01_muhrizkyauliagobel_archive.html"><span style="font-family:trebuchet ms;">&#8220;Bayi juga Manusia&#8221;</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">, saya mengisahkan pertemuan Rizky dan ibunya dengan seorang bayi hasil hubungan gelap yang dititipkan di klinik tak jauh dari rumah kami. Sebuah potret kelam dari kehidupan dunia yang kian carut-marut. Sementara di posting </span><a href="http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com/2005_02_01_muhrizkyauliagobel_archive.html"><span style="font-family:trebuchet ms;">&#8220;Mbak Ami Minggat, Mbak Ida  Merapat&#8221;</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> dipaparkan kisah  lika-liku mencari pembantu rumah tangga yang memiliki beragam karakter. Atau  pada posting </span><a href="http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com/2005/07/menemani-ayah-bercukur.html"><span style="font-family:trebuchet ms;">&#8220;Menemani ayah bercukur&#8221;</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> saya merekam percakapan konyol saya dengan seorang cukur yang mengkritisi kondisi sosial politik sekarang kemudian dituturkan lewat &#8220;kacamata&#8221; Rizky yang kebetulan ikut menemani saya waktu itu.<br />
</span><span style="font-family:trebuchet ms;"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;">Sejujurnya, saya merasa  lebih <em>sreg</em> bertutur lewat Rizky semata-mata karena dua hal. Pertama, saya bisa menggali dan meng-explore lebih luas dan bebas segala kejadian yang terjadi disekitar Rizky misalnya ekspresi, tindakan dan reaksi dari kedua orang tuanya, juga suasana disekelilingnya. Kedua, saya tidak bisa setiap hari berada dan mengamati perkembangan kegiatan Rizky dirumah. Melalui cerita dari istri saya&#8211;momen dimana Rizky juga terlibat dalam peristiwa itu&#8211;setelah kembali dari kantor, saya dapat meramu dan menuturkan kembali kejadian tadi lewat sudut pandang Rizky di blognya. Ini tantangan yang sangat mengasyikkan, meski pada akhirnya saya harus mengakui tidak dapat melakukan update secara periodik karena keterbatasan waktu dan kesibukan dikantor.<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
Dari sejumlah blog anak yang sempat saya kunjungi memang masih lebih banyak berisi tentang jurnal kegiatan harian sang anak, tentu saja termasuk blog anak saya, Rizky. Disela-sela peristiwa kekerasan terhadap anak yang belakangan ini kerap terjadi, blog anak yang ditulis oleh ayah/bundanya menebar kesejukan dan memantulkan cemerlang cinta orangtua pada buah hatinya. Saya memendam harap kiranya ini akan menjadi energi positif dan wadah kontemplasi bagi sang anak kelak jika ia beranjak dewasa dan meneruskan penulisan blog itu sendiri. Baik Sang anak maupun orang tua akan membaca arsip&#8221;jejak-jejak cinta&#8221; yang telah ditorehkan lewat blog untuk kemudian menumbuh-suburkan kasih sayang antar mereka secara intens. Saya yakin kekuatan blog anak terletak disini : sebuah monumen cinta yang tak akan luluh digerus zaman. Dan ungkapan<em> &#8220;From Blog, with Love&#8221;</em>, jadi kian nyata  adanya.<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
Thomas Friedman  dalam bukunya <em>&#8220;The World is Flat: A Brief History of the Globalized World in  the 21st Century&#8221;</em> secara gamblang menyatakan,&#8221;Kemudahan setiap individu untuk berkolaborasi di dunia global didukung oleh berbagai macam perangkat teknologi informasi berikut aplikasinya&#8221;. Lebih lanjut Friedman menjelaskan, adanya &#8220;playing field&#8221; (arena permainan) lewat <em>web-enabled tools</em> memberi kekuasaan kepada individu untuk berkolaborasi di dunia interaktif. Saya menyadari, di dunia yang makin tipis sekat-sekat geografisnya kini (dan kian ceper seperti diungkapkan Friedman dalam bukunya itu) karena perkembangan internet dan teknologi digital yang melaju pesat, membuka peluang berinteraksi antar individu. Melalui blog,terlebih jika dilengkapi dengan fasilitas komentar serta link untuk akses ke topik yang terkait, membuat blog terasa lebih personal, kolegial dan non-formal bagi pembacanya. Implikasinya adalah kedekatan emosional akan terjalin antar sang penulis blog dan khalayak pembacanya. Sejak situs blog anak saya diluncurkan, saya mendapat pengalaman batin yang berharga lewat &#8220;feed-back&#8221; dari para pembaca blog (yang sebagian besar diantaranya juga penulis di blog masing-masing). Tidak hanya kepuasan karena mereka mampir dan membaca isi blog anak saya, tetapi pada saat yang sama, saya memperoleh jaringan interaksi virtual dari kawan-kawan maya yang bisa jadi berada ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat saya berpijak. Beberapa diantara kawan-kawan maya yang kebetulan juga menulis blog untuk sang anak memberi nasihat serta berbagi pengalaman mendidik anak lewat email. Sebuah kolaborasi di dunia interaktif yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan ketika saya masih aktif menulis buku diary dulu.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"><strong>Catatan</strong> : </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;">Tulisan ini merupakan  edisi pelengkap dari artikel yang dimuat <a href="http://bz.blogfam.com/bzsuara/post/">di majalah online bz! blogfam edisi  Maret 2006.<br />
</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=9&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/blog-anak-dan-refleksi-virtual-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.photobucket.com/albums/v471/rizkyauliagobel/posekikiy2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image hosting by Photobucket</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FLASH FICTION : TRAGEDI BISUL</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/tragedi-bisul/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/tragedi-bisul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 04:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen/Cerfet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/tragedi-bisul/</guid>
		<description><![CDATA[Aku meradang. Merah. Juga bernanah. Sudah tiga hari aku bercokol disini, di bokong sebelah kiri salah satu penyanyi dangdut terkenal ibukota, Nana Daranoni. &#160; Sang pemilik bokong tampaknya kurang merasa nyaman atas kehadiranku. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, duduk apalagi. Ia sering menggeliat resah dan mencari-cari posisi yang paling strategis serta enak yang memungkinkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=7&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight:normal;">Aku meradang. Merah. Juga bernanah.</span><br />
</span></h3>
<p>Sudah tiga hari aku bercokol disini, di bokong sebelah kiri salah satu penyanyi dangdut terkenal ibukota, Nana Daranoni.<span id="more-7"></span></p>
<p class="post-body">&nbsp;</p>
<p>Sang pemilik bokong tampaknya kurang merasa nyaman atas kehadiranku. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, duduk apalagi. Ia sering menggeliat resah dan mencari-cari posisi yang paling strategis serta enak yang memungkinkan diriku tak terhimpit atau tertekan.</p>
<p>“Aduuh..akang tolong liatin <em>doong</em> bisul Nana. Sakit  banget <em>niih</em>,” pinta “tuan rumahku” itu pada sang suami tercinta dengan wajah memelas. Ia lalu mengangsurkan bokongnya mendekati wajah lelaki kekar disampingnya yang serta merta kaget mendapat “pemandangan” yang sungguh sangat tak diduga dan diharapkan itu..</p>
<p>Sepasang mata lelaki kemudian mengamatiku penuh selidik. Tajam namun bernafsu. Hidungnya kembang kempis, kumisnya bergerak naik turun.</p>
<p>Ia lalu bergumam tak jelas. Aku mulai  cemas.</p>
<p>“Bagaimana akang ?,” tanya Nana penasaran.</p>
<p>“Putih. Mulus,”  sahut lelaki itu. Ada kilat jenaka dimatanya.</p>
<p>Nana merajuk. Ia mencubit  mesra lengan sang suami. “Aku nggak bercanda,kang!. Bagaimana bisulku ?”,  katanya.</p>
<p>“Parah nih, <em>say</em>. Mesti dibawa ke dokter. Sudah mulai  merah, bengkak dan bernanah,” sahut lelaki itu prihatin.</p>
<p>Sang istri  mendelik marah.</p>
<p>“Akang tega ya bokong istri dipamer-pamerkan ke dokter  ?”.</p>
<p>“Bukan begitu, <em>say</em>. Maksudku supaya segera dapat penanganan yang professional dan higienis. Kalau sembarangan kan’ nanti infeksi. Malah tambah gawat toh’ ?. Lagipula kita bisa pakai dokter perempuan. Nggak masalah <em>koq</em>,” sahut sang suami berdalih.</p>
<p>“Tidak mau!. Aku nggak mau!,”  seru Nana tegas.</p>
<p>“Lho, lantas mau diapain <em>dong </em>kalau begitu ?”  tanya sang suami putus asa.</p>
<p>“Dielus-elus aja. Siapa tahu malah kempes dan  sembuh!”.</p>
<p>“Mana ada bisul dielus-elus bisa kempes. <em>Ngawur</em>  aja!”</p>
<p>“<em>Biarin</em>!. Pokoknya dielus-elus aja. Titik. Dan jangan  coba-coba <em>horny </em>ya?”, ancam sang istri seraya mencubit pinggang  pasangan hidupnya itu.</p>
<p>Sang suami menghela nafas panjang. Menyerah. Tangannya lalu terulur dan menjangkau kearahku. Mengelusku pelan-pelan. Sangat pelan. Aku jadi terbuai karenanya.</p>
<p>“Naahh..begitu, kang. Agak mendingan. Enak,” ujar sang istri sambil memejamkan mata, meresapi elusan lembut jemari sang suami. Pada bisulnya.</p>
<p>“Say, mau aku ceritakan sesuatu tentang bisul  ?”, kata sang suami menawarkan.</p>
<p>“Boleh, kang. Boleh. Bagaimana ceritanya  ?”, sahut si istri antusias.</p>
<p>“Kata kakekku dulu, Bisul itu terjadi pada seseorang karena adanya perasaan bersalah yang disembunyikan. Singkatnya, bisul adalah manifestasi dari sebuah kebohongan rahasia,”</p>
<p>“Maksud akang  bagaimana ?. Akang menuduhku menyembunyikan sesuatu ?”.</p>
<p>“Tidak persis  begitu”, sahut sang suami tenang.</p>
<p>“Lantas ?”.</p>
<p>“Begini,aku pernah kena bisul, saat masih kecil dulu. Di lengan sebelah kanan. Waktu itu, aku kepingin sekali membeli mobil-mobilan kayu. Karena tak punya uang, diam-diam aku nekat mencurinya dari dompet ayah. Aku lalu membeli mobil-mobilan kayu idamanku dari uang tersebut. Tak lama berselang. Bisulku tumbuh.”</p>
<p>“Terus  ?”.</p>
<p>“Kebetulan kakekku datang dari kampung dan memperhatikan bisulku itu. Dengan tenang ia berkata, tangan kananmu melakukan sesuatu yang tercela dan kamu menyembunyikannya. Bisul ini adalah peringatan. Juga hukuman atas apa yang telah kamu lakukan”.</p>
<p>Sang istri terdiam. Untuk beberapa saat suasana hening. Sang suami masih setia mengelusku seakan memberi jeda pada sang istri untuk berfikir serta menghubung-hubungkan fakta yang ada dan kisah yang baru saja diceritakan.</p>
<p>“Apakah akang merasa aku melakukan kebohongan rahasia yang menyebabkan bisulku ini tumbuh dibokong?,” tanya sang istri seraya menatap tajam mata sang suami.</p>
<p>Hening beberapa jenak.</p>
<p>“Nana, <em>my dear</em>. Aku tidak menuduhmu bila tak ada fakta yang mendukung untuk itu. Namun sayangnya,” ujar sang suami dengan suara parau. “Aku punya buktinya.”</p>
<p>Sang istri terhenyak. Aku cemas. Jemari lelaki itu terlihat  bergetar mengelusku.</p>
<p>“Kamu menandatangani persetujuan kontrak foto telanjang dengan salah satu majalah khusus pria dewasa. Sesuatu yang sudah aku tak kehendaki sejak awal ketika kamu meminta persetujuanku. Aku menemukan surat kontrak itu kamu sembunyikan disudut lemari pakaian kita tiga hari lalu.”, ucap sang suami dengan nada tinggi.</p>
<p>Sang istri menahan nafas. Aku makin  cemas.</p>
<p>“Dan kamu ingin tahu, apa yang kakekku tempo hari lakukan pada  bisulku ?”.</p>
<p>Saat itulah aku melihat kelima jemari tangan lelaki itu  meluncur deras kearahku.</p>
<p>PLAKKKK!!</p>
<p>Akupun hancur  terburai.</p>
<p>Sang istri menjerit histeris. Lalu terkulai  pingsan.</p>
<p>Lelaki itu tersenyum puas.</p>
<p>“Ya..beliau menampar keras  bisulku hingga pecah,” desisnya  lirih.</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p><span style="font-family:trebuchet ms;">Sebuah &#8220;Flash-Fiction&#8221; yang dipersembahkan untuk bisul yang sedang bersemayam dengan damai dipantatku. Saat ini (kebohongan apa lagi sih yang tengah kusembunyikan ?)</span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=7&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/tragedi-bisul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONTEMPLASI VIRTUAL ALA TINE</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/kontemplasi-virtual-ala-tine/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/kontemplasi-virtual-ala-tine/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2006 04:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/kontemplasi-virtual-ala-tine/</guid>
		<description><![CDATA[Judul : Blog Tinneke Carmen Penulis : Albertina S Calemens Penerbit : Gradien Books – Yogyakarta Tahun : 2006, Cetakan -1 Tebal : 246 Halaman Harga : Rp 30,000,- “Dihadapan TUHAN, kata-kataku menari” Demikian tulis Tine, atau Albertine S Calemens disapa, dihalaman awal buku yang diangkat dari jurnal hariannya di Internet (blog) ini. Dan memang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=6&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"><strong><img src="http://img.photobucket.com/albums/v471/rizkyauliagobel/CoverBukuBlogTine.jpg" alt="Cover Buku Tine" align="left" height="300" width="209" /></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:trebuchet ms;"><strong>Judul : Blog  Tinneke Carmen<br />
Penulis : Albertina S Calemens<br />
Penerbit : Gradien Books –  Yogyakarta<br />
Tahun : 2006, Cetakan -1<br />
Tebal : 246 Halaman<br />
Harga : Rp  30,000,-</strong></span></p>
<p><em>“Dihadapan TUHAN, kata-kataku  menari”</em></p>
<p>Demikian tulis Tine, atau Albertine S Calemens disapa,  dihalaman awal buku yang diangkat dari <a href="http://tinnekecarmen.tk/"><span style="font-family:trebuchet ms;">jurnal  hariannya di Internet (blog)</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> ini. Dan memang, saya menangkap “tarian kata-kata” Tine mengalir indah, lancar dan renyah ketika membuka kemudian membaca lembar demi lembar halaman buku yang baru saja terbit awal bulan lalu itu. Tak salah jika, Mike-Indonesian Idol secara atraktif mengungkapkan kekaguman lewat komentarnya di bagian belakang buku ini,” Ceritanya ekspresif, sensitif, sentimental. Topiknya ringan, tapi tetap ada pesan buat kita untuk lebih Mengerti, Mensyukuri”.</span><span id="more-6"></span></p>
<p>Setelah buku  <a href="http://www.kambingjantan.com/"><span style="font-family:trebuchet ms;">blog kambing jantan</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> karya Raditya Dika dibukukan oleh </span><a href="http://gagasmedia.net/"><span style="font-family:trebuchet ms;">Gagas  Media</span></a><span style="font-family:trebuchet ms;"> tahun silam, buku blog  Tine yang diterbitkan bersamaan dengan </span><a href="http://tristania-angina.com/"><span style="font-family:trebuchet ms;">buku  blog Dewi </span></a><span style="font-family:trebuchet ms;">oleh Penerbit Gradien-Yogyakarta, semakin memperkaya khasanah blog yang dibukukan. Harus diakui, keberanian membukukan blog dari Penerbit Gradien patut diacungi jempol, terlebih ketika sejumlah tanggapan minor yang muncul dan menyebutkan bahwa sangat susah memasarkan buku blog. Saya yakin pertimbangan sang penerbit untuk membukukan blog Tine tidak semata berdasarkan alasan komersial belaka namun lebih dari itu, ungkapan perasaan Tine&#8211;yang kini menjadi editor content di www.liputan6.com&#8211; melalui untaian kalimat-kalimat yang terjalin rapi dan memukau sudah seyogyanya “dibagi” kepada para pembaca terutama bagi yang tidak dapat membuka blog Tine melalui internet. Kontemplasi Virtual Tine yang dituangkan melalui blognya dan kemudian dibukukan ini, tak pelak, menjadi referensi dan refleksi kehidupan yang sangat berharga untuk para pembacanya dan tidak sekedar hanya membaca curhat keseharian seorang Tine. Ada sejumlah nilai-nilai universal yang “ditiupkan” melalui tulisan-tulisan ringkas tapi bernas ini.</span></p>
<p>Lihatlah, bagaimana Tine dengan kalimat puitis membuka  paragraf awal di posting “Bantal Beraroma Matahari” (halaman 148) : <em>“Bau tanah basah di bawah jendela menusuk hidungku. Cahaya matahari menembus gorden kasa murah yang langsung menumbuk bantal. Bau matahari masih melekat di bantal dan guling. Aku belum mau bangun. Aku ingin lebih lama di tempat tidur besi yang warna cat di ukirannya sudah pudar. Tidak ada jadwal kerja. Tidak perlu buru-buru ke kamar mandi. Tak harus memikirkan sarapan. Tergesa-gesa membaca koran dan menyetel radio untuk memantau kejadian di dalam dan luar negeri”</em>.  Juga di tulisan Tine di “Pagi Manis” (halaman 135), <em>“Pagi begitu manis. Sinar matahari hangat. Cahayanya membuat warna hijau daun begitu cerah. Air menetes pelan-pelan dari puncak tanaman turun ke ranting, daun, bunga, batang, dan meluncur ke tanah. Tanah yang tersiram air seperti brownies dengan bau yang beda. Bau tanah kental. Pagi manis-manis selalu mengingatkan aku pada Mama. Mungkin tidak ada orang yang tahu bahwa aku kecil senang memperhatikan Mama menyambut pagi. Begitu lembut, bersih, basah, hijau, dan sederhana”</em>.</p>
<p>Tine, dengan jenaka, juga menceritakan musibah kecelakaan yang dialami sang abang dan kebetulan melibatkan seorang perwira menengah yang arogan dalam “Beking” (halaman 174) dan ketika Tine dihinggapi rasa kangen pada Handphone-nya dalam “Kangen” (halaman 172). Tidak hanya itu, sebagai seorang tante, Tine juga mengisahkan sejumlah pengalaman lucunya ketika mengasuh keponakan-keponakan kesayangannya dalam “Meniru Moses” (halaman 29), “Piyama” (halaman 133), “Bonty” (halaman 45) dan “Nera Hilang” (halaman 98). Juga, Tine menulis sejumlah puisi yang cukup menarik dalam buku ini seperti “Hanya Debulah aku”(halaman 103) dan “Lima Huruf” (halaman 216).</p>
<p>Tine juga berhasil  memikat pembacanya melalui tulisannya “Aku dan Ayah” (halaman 68). <em>“Aku tidak pernah berani berbuat aneh-aneh. Sebab, ayah seperti punya mata dan telinga. Tiba-tiba saja dia akan bertanya tentang apa yang sedang aku sembunyikan. Ini terjadi berulang kali. Ayah jugalah yang sejak kecil mengarahkan aku untuk menjadi wartawan. Dia tidak pernah bosan menjawab pertanyaanku. Dia adalah teman diskusi pertamaku. Bahkan ketika kecil aku tidak bisa tidur tanpa mengusap-usap leher ayahku. Aku bahkan meminta ayah agar tidak mencukur licin bulu di lehernya. Ini tidak mungkin aku lakukan pada ibu. Begitu menyentuh lehernya, plak, tanganku langsung ditepok”,</em> demikian mantan wartawan Media Indonesia ini menulis. Nuansa kontemplatif dan religius yang begitu kental juga diungkapkan oleh perempuan yang mengaku obat stressnya dikala suntuk adalah menyampul buku ini. Terbaca dari tulisannya “Lingkaran Kasihan” (halaman 115), “Jenderal Tanpa Ekspresi” (halaman 61) dan “Email untuk Tuhan” (halaman 53) dan “Putri Masako” (halaman 34).</p>
<p>Buku blog Tine yang oleh penerbitnya diberi label khusus “E-Life Series” dibagian atas kiri sampulnya ini nampaknya menjadi gebrakan monumental bagi Penerbit Gradien untuk menerbitkan buku serial-serial serupa dimasa yang akan datang. Saya percaya, terlepas dari unsur komersial, buku blog Tine, Dewi dan buku blog yang diterbitkan berikutnya akan memberi pencerahan bagi para pembacanya. Seperti ungkap Tine memberi arti bagi blognya dalam pengantar buku ini : <em>“ibarat susu cokelat hangat untuk mengisi  hari”</em>. Selamat dan sukses untuk Tine!.</p>
<p align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"></span></p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;">Resensi Buku ini juga  dimuat di <a href="http://http//bz.blogfam.com/bzbincang/kontempelasi_virtual_ala_tine/">Majalah  Online Blogfam Edisi Juni 2006</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=6&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/26/kontemplasi-virtual-ala-tine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.photobucket.com/albums/v471/rizkyauliagobel/CoverBukuBlogTine.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Buku Tine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI CINTA</title>
		<link>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/22/puisi-puisi-cinta/</link>
		<comments>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/22/puisi-puisi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Sep 2006 09:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltgobel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/22/puisi-puisi-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Pada Saatnya Pada Saatnya, Ketika musim berganti Dan gugusan mendung yang ranum Menitikkan tetes hujan pertama Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu Menyibak kabut keraguan Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu Pada Saatnya, Di ujung perjalanan Akan kubingkai binar matamu Bersama gelegak gairah jiwaku Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala Dalam leleh cahaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=4&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<h1><span style="font-size:11pt;"><u><font face="Times New Roman">Pada Saatnya</font></u></span></h1>
<p><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Pada Saatnya,</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Ketika musim berganti</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Dan gugusan mendung yang ranum</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Menitikkan tetes hujan pertama</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Menyibak kabut keraguan</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><span>                                                           </span></font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Pada Saatnya,</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Di ujung perjalanan</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Akan kubingkai binar matamu </font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Bersama gelegak gairah jiwaku<br />
</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
ditingkah semilir angin laut dan tarian ombak</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
membelai lembut kristal pasir pantai</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Pada Saatnya,</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Dalam genangan cinta dipalung kalbu</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><br />
Dan getar cumbu tak berkesudahan</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">120806</font></span></em></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"><span id="more-4"></span></font></span></p>
<h1><span style="font-size:11pt;"><span style="text-decoration:none;"><u></u></span></span></h1>
<h1><span style="font-size:11pt;"><u></u></span></h1>
<h1><span style="font-size:11pt;"><u><font face="Times New Roman">Tentang Kehilangan, Tentang Pengorbanan</font></u></span></h1>
<p><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Ceritakan padaku</font></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">tentang pedihnya sebuah kehilangan </font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Yang terbang diatas awan senja merah saga</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dan menyisakan ngilu menikam didada</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dalam derap waktu yang bergegas</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Agar segera kubaluri hatimu</font></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dengan sejuk bening embun</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dan tulus cintaku</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Ceritakan padaku tentang perihnya sebuah pengorbanan</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Yang membakar habis segenap asamu</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dan meninggalkan sepotong lara mengendap di dasar kalbu</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Agar kubuatkan untukmu</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Rumah diatas awan </font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">tepat dipuncak larik pelangi</font></span><span style="font-size:11pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Yang kubangun dari setiap desir rindu dan<span>  </span></font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Khayalan merangkai impian bersamamu</font></span><span style="font-size:11pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dari bilik hatiku, yang senantiasa percaya</font></span><span style="font-size:11pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Kebahagiaan kita adalah </font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">keniscayaan tak terlerai</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"> </span><em><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">130806</font></span></em><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<h2><u><font face="Times New Roman" size="3">Malam Pengantin</font></u></h2>
<p><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Biarkan degup jantung kita berpadu</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dalam hasrat menyala, yang sudah tersimpan rapi</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Sejak cinta kita tumbuh pada awalnya</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">bagai matahari pagi terbit mendaki bukit demi bukit</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Hingga kupasangkan cincin perkawinan</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Sebagai tambatan akhir pengembaraanku</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Biarkan rindu kita luluh bersama malam</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dalam lembut cahaya bulan dan kerlip kunang-kunang</font></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Lalu perlahan membakar kedua sukma kita</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Diatas ranjang peraduan beraroma kenanga</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Kemudian terbang menyusuri awan</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Hingga kaki langit tempat segala kenangan tentang kita </font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">bersemayam abadi sepanjang musim</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Biarkan bintang mendelik cemburu</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Pada gelora cinta kita yang membias hingga batas cakrawala</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Lalu berpendar indah di seantero angkasa</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dan menepis segala kesangsian</font></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Bahwa Biduk yang kita kayuh berdua</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Akan mampu meredakan sejuta badai</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></span></span></p>
<p><em><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">130806</font></span></em><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span></span><span style="font-size:11pt;"> </span><strong><u><span style="font-size:11pt;"></span></u></strong></p>
<p><strong><u><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Sajak Rindu</font></span></u></strong></p>
<p><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Pernahkah kau bayangkan</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dan tenggelam dalam kerik jengkerik di beranda</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Pernahkah kau bayangkan</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Disetiap rentang waktu yang riuh</font></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">dimana kurekat erat binar matamu</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Selalu kutitipkan harap disana</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dalam desau angin dan desir gerimis senja</font></span><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Pernahkah kau bayangkan</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Pada kelopak mawar disudut taman</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Dan jernih embun yang menitik diatasnya</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Kusimpan gigil gairahku yang membara padamu</font></span><span style="font-size:11pt;"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Disetiap tarikan nafas </font></span></span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">saat kulukis paras purnamamu</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> di kanvas hatiku</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="font-style:italic;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">140806</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><strong><u><font size="3">Ihwal Hati</font></u></strong></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Aku adalah alter ego kesunyian</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">yang secara naif membaca setiap percik pesonamu</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">memancarkan kemilau di rintik sepi</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">yang membuatku</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">mendefinisikan ulang arti nestapa diri</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">dari sebuah ruang hati</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">dimana gairah purba itu</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">tak berhenti membakar nyali</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Adakah kau tahu</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Di semesta asa yang kubentangkan</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">dan pada rentang waktu yang deras dialiri kenangan</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Selalu kupahat rapi jejak rindu</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Tentang kita</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Hanya kita</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><em><font face="Times New Roman"><font size="3">260806</font></font></em></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><strong><u><font size="3">Tegar</font></u></strong></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Disetiap lapis masa lalu</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Dimana angin membatu dan musim tak lagi bergerak</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">pusaran waktu membuatku terhempas</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">lalu lepas</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">dari serpihan detik yang terus mengalun</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">menuju kehampaan kalbu dan hasrat</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">yang lantas menjelma menjadi noktah-noktah pucat dirangka langit</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">Kini,</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">diujung penantian</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">tegak kupancang tubuhku menantang badai</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">dan apapun juga</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">yang membuat</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">setiap desah nafasku</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><font size="3">luruh bersama asa</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><em><font face="Times New Roman"><font size="3">260806</font></font></em></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amriltgobel.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amriltgobel.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amriltgobel.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amriltgobel.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amriltgobel.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amriltgobel.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/amriltgobel.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/amriltgobel.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/amriltgobel.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/amriltgobel.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amriltgobel.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amriltgobel.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amriltgobel.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amriltgobel.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amriltgobel.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amriltgobel.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amriltgobel.wordpress.com&amp;blog=430112&amp;post=4&amp;subd=amriltgobel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amriltgobel.wordpress.com/2006/09/22/puisi-puisi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>90</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a8a7919e38fff1db90172459b87c6340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltgobel</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
