Catatan Dari Hati


FLASH FICTION : “SEPEDA”
September 26, 2006, 5:41 am
Diarsipkan di bawah: Flash-Fiction

Untuk kesekian kalinya, jemari Andi mengelusku. Gemetar. Juga dingin. Seketika, seperti ratusan ribu arus listrik menyengat sekujur batang-batang rangka tubuhku, menggelenyar liar hingga ke jeruji kaki. Menyisakan kepedihan yang tak terkatakan.

Andi mendesah. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Dielusnya aku sekali lagi dan berdesis lirih.

“Selamat tinggal, sayang,” katanya pilu. Aku membeku. Diam.
Ia lalu bergegas meninggalkanku dan menuju sepeda motor yang baru saja dibelinya kemarin dan sedang terparkir gagah didepanku.

Aku memandang Andi—kawan setiaku– berlalu bersama derum mesin motor yang seperti sinis mengejekku sendirian diruang garasi.

Sejenak lamunanku berkelana, saat Andi dengan girang menerimaku sebagai hadiah ulang tahun ke-sepuluh dari orang tuanya. Matanya berbinar ceria “menelanjangiku” dan tak henti berdecak kagum melihat postur mentereng tubuhku. Sebersit rasa bangga membuncah dihatiku.

Kami berdua meniti hari dengan ceria. Tidak hanya rutinitas perjalanan pergi pulang dari rumah ke sekolah, tapi sejumlah perjalanan-perjalanan lain yang membuatku menjadi lebih bermakna. Setiap kayuhan kaki Andi, senandung kecilnya ketika ia mengendaraiku, atau bagaimana ia memacu diriku sekencang mungkin berlomba bersama rekan-rekannya senantiasa memompa semangatku dan menetapkan hati menjadi sahabat setianya, sampai kapanpun. Tak terpisahkan.

Dan kini setelah empat tahun berlalu, aku tak kuasa melerai hasrat Andi untuk memiliki sepeda motor baru. Kedua orang tuanya menyanggupi keinginan putra tunggal kesayangannya itu sebagai hadiah ulang tahunnya.

Kemarin ketika sepeda motor itu datang, Andi memandangnya dengan begitu antusias seperti saat pertama melihat aku tiba dulu. Dan itu membuatku sangat terpukul juga terluka amat dalam.

Lamunanku buyar ketika terdengar suara Mang Sarip, tukang kebun Andi, datang bersama seseorang yang tidak kukenal mendekatiku.

“Berapa nih bang, kalo dikiloin ?,” ujar Mang Sarip sambil menuding ke arahku yang masih diam. Dan membeku.


Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>