Catatan Dari Hati


OJEK SEPEDA, KENANGAN 8 TAHUN PERNIKAHAN
April 13, 2007, 8:22 am
Diarsipkan di bawah: Blog

Sebuah kisah nyata di ujung jalan raya Semper, Tanjung Priok, sepuluh tahun silam (tanggal tepatnya lupa) :

Pemuda itu memandangku dengan tatapan curiga.

Ia kemudian melihat sepeda bututnya dan melihat kembali lagi kepadaku. Seperti “menakar” sesuatu. Spontan, kepalanya menggeleng pelan.

Aku balas menatap pemuda bertubuh mungil itu dengan penuh keyakinan.

“Saya tidak bisa. Pokoknya tidak bisa. Silakan cari tukang ojek yang lain saja”, katanya pasrah. Ia lalu meraih gagang sepedanya dan bermaksud membawanya pergi dari hadapanku.

“Tunggu dulu,” aku memegangi lengannya. Putus asa.

Pemuda itu menoleh. Ia memandangiku sekali lagi.

“Saya bayar dua kalinya deh. Disini tak ada tukang ojek lainnya selain kamu. Bagaimana?. Saya bayar sekarang saja juga bisa kok”, kataku sembari mengangsurkan sejumlah uang kepadanya.

Pemuda itu merenung sejenak. Ia memandangiku kembali. Dari atas kebawah, kemudian menatap sedih kearah sepeda bututnya.

“Saya mau. Tapi saya tidak mampu,” ujar pemuda itu akhirnya.

“Kenapa ?”

“Badan kamu besar. Gemuk lagi. Saya tidak mampu mengayuh sepeda membawa badan kamu sebesar itu,” tukas pemuda itu sembari mencoba menggiring sepedanya menjauhiku.

Aku menghela nafas panjang.

“Oke, begini saja”, kataku dengan nada tegas,”kamu saya bonceng dan saya berada didepan mengayuh sepedamu. Bayaranmu tetap dua kali lipat, sesuai kesepakatan sebelumnya. Bagaimana ?.

Seketika sorot mata pemuda itu berbinar. Ia mengangguk setuju. Sepedanyapun beralih kepadaku.

Dan demikianlah, Akupun menjelma menjadi seorang tukang ojek sepeda paling ganteng dan paling wangi di kawasan itu.

Kayuhan sepedaku terasa ringan, menuju tempat kost putri, tempat dimana sang pujaan hatiku berada. Aku tak peduli tatapan heran (atau kasihan?) sejumlah orang yang kami lewati maupun berpapasan. Yang paling penting, aku mesti tiba lebih cepat sampai ke tujuanku.

Senja merona cerah diujung cakrawala. seperti rona merah jambu dipipi kekasihku yang menyambut sang arjuna idamannya di depan gerbang rumah kost. Aku tak tahu apa yang sedang berkecamuk dihatinya ketika menyaksikan diriku dengan keringat mengucur dikening dan baju berbasuh peluh. Yang kutahu pasti, aku telah menunjukkan sungguh besar cintaku padanya dan tidak sebatas kayuhan ojek sepeda belaka.

Dan kini, 10 tahun pasca peristiwa diatas, kekasihku, yang kini jadi istriku dan ibu bagi kedua anak-anakku (Rizky dan Alya) seringkali tertawa sendiri mengenang peristiwa bersejarah itu.

Hari ini, 10 April 2007, usia pernikahan kami memasuki usia kedelapan. Semoga kami bisa mengayuh biduk perkawinan kami melewati terpaan sejuta badai dalam kekuatan cinta kami yang kokoh tak tergoyahkan.

Selamat Ulang Tahun Perkawinan kedelapan (10 April 1999 – 10 April 2007), buat saya sendiri dan istriku tercinta, Sri Lestari.
 

Catatan : Obyek gambar diambil dari sini
 



FLASH FICTION : “CERMIN TOILET”
September 26, 2006, 5:42 am
Diarsipkan di bawah: Flash-Fiction

Aku menatapnya. Takjub. Dia menatapku. Marah.

Aku tak tahu apa yang berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah balik memandang, sekaligus mengagumi kecantikannya yang begitu alami.

Wanita itu mendengus kesal. Ia mengambil tisu dari tasnya dan menyeka bedak yang sudah menempel di pipinya, juga polesan lipstick di bibirnya. (lagi…)



FLASH FICTION : “SEPEDA”
September 26, 2006, 5:41 am
Diarsipkan di bawah: Flash-Fiction

Untuk kesekian kalinya, jemari Andi mengelusku. Gemetar. Juga dingin. Seketika, seperti ratusan ribu arus listrik menyengat sekujur batang-batang rangka tubuhku, menggelenyar liar hingga ke jeruji kaki. Menyisakan kepedihan yang tak terkatakan.

Andi mendesah. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Dielusnya aku sekali lagi dan berdesis lirih.

“Selamat tinggal, sayang,” katanya pilu. Aku membeku. Diam. (lagi…)



FLASH-FICTION : “TIANG LISTRIK”
September 26, 2006, 5:38 am
Diarsipkan di bawah: Flash-Fiction

Teng!!..Teng!!

 

Tubuhku dipukul dua kali. Begitu selalu. Setiap jam dua dini hari. Biasanya aku terbangun dari lelap tidur dan menyaksikan sesosok lelaki tua, petugas ronda malam kompleks perumahan menatapku puas dengan setangkai kayu ditangan kanan. Aku kembali tidur sesaat setelah melihat seulas senyum menghiasi bibir lelaki itu.
Sebuah tanda. Hanya sebuah tanda bahwa lelaki tua itu baru saja lewat berpatroli disekitar lingkungan tempatku berdiri tegak. Tepat dipukul dua dini hari. Selalu begitu setiap hari selama empat tahun terakhir. Dan aku menikmati rutinitas menyakitkan itu sembari diam-diam bersyukur masih untung dipukul dua kali, bagaimana kiranya jika sampai dipukul duabelas kali ?. (lagi…)



CERPEN : PENGANTIN MATA BIRU
September 26, 2006, 5:33 am
Diarsipkan di bawah: Cerpen/Cerfet

AKU menyusuri wilayah Desa Kuala Daya, Kecamatan Lamno, Aceh Jaya, dengan perasaan tak menentu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah rencong ini, pemandangan yang terhampar dihadapanku sungguh membuat batinku pilu dan tersentak. Betapa tidak, daerah pesisir pantai yang konon terkenal akan keindahannya itu, kini dibaluri warna coklat tua bercampur kering darah. Bangunan porak poranda, hanya menyisakan puing-puing tak berarti. Seonggok perahu tampak tergeletak di samping sebuah bangunan rumah yang telah luluh lantak. Beberapa bangkai perahu lainnya terserak di banyak tempat. Bau anyir mayat masih tercium dan meruap di udara.

(lagi…)



PESONA CERFET YANG PENUH GREGET — Sebuah Sketsa Pengalaman Pribadi
September 26, 2006, 4:53 am
Diarsipkan di bawah: Tulisan/Artikel

“Selamat ya,” ucap Tina pendek. Juga lesu.

 

“Koq cuma itu, sih?” protes Jamal gundah.

“Lantas, kamu mengharapkan aku berkomentar apa?” sahut Tina sengit.

Ia meraih orange Juice yang tinggal separuh dan meminum sampai habis.
“Jangan sinis gitu dong, Tin. Paling tidak aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, dapat lolos kasting dan menjadi pemeran di sinetron Serambi Rumah Maknyak yang akan syuting minggu depan. Surat Pemberitahuan dari Production House yang kamu pegang sekarang itu adalah awal karir gemilangku nanti. Seharusnya kamu bangga dong atas prestasi yang kuraih ini. Kamu koq malah membuat semangatku jadi patah sih?” ujar Jamal seraya mendengus kecewa. Tina menghela nafas dan menatap Jamal tajam.

“Aku selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu dalam menentukan karir dimasa depan. Apapun itu. Asal jangan jadi artis!” tegas Tina dengan mata menyala.

Jamal angkat bahu.

“Tina, aku ingin mewujudkan impian masa kecilku. Menjadi bintang film. Dan apa yang aku harapkan, sekarang sudah menjadi nyata. Selangkah lagi, aku akan masuk ke dunia yang senantiasa hanya menjadi bagian dari mimpiku selama ini. Aku tidak akan mundur. Selangkahpun. Aku janji tidak akan melupakan apalagi mengabaikanmu selama meniti karir keartisanku ini. Percayalah. Aku mohon dukunganmu, Tin,” kata Jamal lembut. Ia meraih jemari Tina lalu menggenggamnya erat. (Dikutip dari Cerfet Selebritiku, Pulanglah!, Episode Kesebelas oleh Amril Taufiq Gobel, posting tanggal 16 Juni 2005).

CERFET atau Cerita Estafet yang dimuat di ruang Galeri Kreasi adalah sebuah fenomena menarik di Komunitas Blogfam (www.blogfam.com). Sejak pertama kali dipopulerkan oleh Sa dan Tuteh dengan judul Sketsa Hati Tuteh (Agustus 2004), tercatat hingga tulisan ini dibuat sudah ada tujuh cerfet dengan berbagai tema yang berbeda ditayangkan di Galeri Kreasi Blogfam. Termasuk cerfet terbaru “Bayang Hitam” yang saat ini memasuki episode kesepuluh dan ditulis oleh delapan orang.
(lagi…)



BLOG ANAK DAN REFLEKSI VIRTUAL KEHIDUPAN
September 26, 2006, 4:45 am
Diarsipkan di bawah: Tulisan/Artikel

 

“Jadi laki-laki memang tidak mudah, nak”, kata ayahku sembari mengoleskan minyak gosok ke keningku yang benjol setelah ditonjok pakai gembok besi oleh Faiz tetangga rumah yang seumur denganku. Sore tadi, setelah rebutan mainan, Faiz memukul keningku dengan gembok rumahnya. Keningku memang agak memar namun setelah ayah mengoleskan minyak gosok sakitnya jadi sedikit berkurang. Sebenarnya tidak terlalu parah, tapi ibu dengan cemas begitu memperhatikan keadaanku.

“Nggak apa-apa koq,”kata ayahku menghibur ibu. “Anak laki-laki memang biasa kalau berantem, kayak bapaknya dulu waktu kecil”.

Ayah kemudian mengusap kepalaku pelan sambil menatapku tajam,”Tapi jangan mau kalah dong!”.

Image hosting by Photobucket

Ibu melotot ke arah ayahku.

“Zaman Rizky sudah berbeda dengan zamanmu dulu !”, kata ibu ketus.

Ayah tertawa renyah.

“Ya, tapi itu tidak berarti bahwa dia mesti jadi pecundang dong!”, sahut ayahku enteng kemudian meraih handuk lalu menuju ke kamar mandi.

Keesokan harinya, saat bermain bersama Faiz dan ia berusaha merebut mainan mobil-mobilanku, aku segera memukul wajahnya lantas mendorongnya ke tanah. Iapun menangis sejadi-jadinya. Ibu Faiz dan ibuku yang sedang asyik mengobrol terkejut kemudian datang melerai kami berdua. Ibu kemudian merangkulku dan mengajak bersalaman untuk berdamai dengan Faiz. Sore harinya ibu menceritakan hal ini pada ayah. Mau tahu apa tanggapannya ?.

“So, that’s my Boy!!”, serunya lantang sembari mengacungkan jempolnya.

(Dikutip dari Blog Rizky “That’s My Boy”)

(lagi…)



FLASH FICTION : TRAGEDI BISUL
September 26, 2006, 4:32 am
Diarsipkan di bawah: Cerpen/Cerfet

Aku meradang. Merah. Juga bernanah.

Sudah tiga hari aku bercokol disini, di bokong sebelah kiri salah satu penyanyi dangdut terkenal ibukota, Nana Daranoni. (lagi…)



KONTEMPLASI VIRTUAL ALA TINE
September 26, 2006, 4:22 am
Diarsipkan di bawah: Resensi Buku

Cover Buku Tine

Judul : Blog Tinneke Carmen
Penulis : Albertina S Calemens
Penerbit : Gradien Books – Yogyakarta
Tahun : 2006, Cetakan -1
Tebal : 246 Halaman
Harga : Rp 30,000,-

“Dihadapan TUHAN, kata-kataku menari”

Demikian tulis Tine, atau Albertine S Calemens disapa, dihalaman awal buku yang diangkat dari jurnal hariannya di Internet (blog) ini. Dan memang, saya menangkap “tarian kata-kata” Tine mengalir indah, lancar dan renyah ketika membuka kemudian membaca lembar demi lembar halaman buku yang baru saja terbit awal bulan lalu itu. Tak salah jika, Mike-Indonesian Idol secara atraktif mengungkapkan kekaguman lewat komentarnya di bagian belakang buku ini,” Ceritanya ekspresif, sensitif, sentimental. Topiknya ringan, tapi tetap ada pesan buat kita untuk lebih Mengerti, Mensyukuri”. (lagi…)



PUISI-PUISI CINTA
September 22, 2006, 9:43 am
Diarsipkan di bawah: Puisi

Pada Saatnya


Pada Saatnya,

Ketika musim berganti

Dan gugusan mendung yang ranum

Menitikkan tetes hujan pertama

Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu

Menyibak kabut keraguan

Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu

Pada Saatnya,

Di ujung perjalanan

Akan kubingkai binar matamu

Bersama gelegak gairah jiwaku
Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala
Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit

ditingkah semilir angin laut dan tarian ombak

membelai lembut kristal pasir pantai

Pada Saatnya,

Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur

lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,

Dalam genangan cinta dipalung kalbu

Dan getar cumbu tak berkesudahan

120806

(lagi…)